Bagian Materi Pembelajaran Biologi

Published Desember 22, 2012 by afrizaldelfansonnbbn

 

1) Hormon pada tumbuhan
Hormon pada tumbuhan sering disebut fitohormon atau zat pengatur tubuh. Beberapa di antaranya adalah auksin, sitokinin, giberelin, etilen, dan asam absisat.

* Auksin, berfungsi untuk memacu perpanjangan sel, merangsang pembentukan bunga, buah, dan mengaktifkan kambium untuk membentuk sel-sel baru.
* Sitokinin, memacu pembelahan sel sertamempercepat pembentukan akar dan tunas.
* Giberelin, merangsang pembelahan dan pembesaran sel serta merangsang perkecambahan biji. Pada tumbuhan tertentu, giberelin dapat menyebabkan munculnya bunga lebih cepat.
* Etilen, berperan untuk menghambat pemanjangan batang, mempercepat penuaan buah, dan menyebabkan penuaan daun.
* Asam absisat berperan dalam proses perontokan daun.

2) Hormon pada hewan
Beberapa hormon pertumbuhan pada hewan adalah sebagai berikut.
* Tiroksin, mengendalikan pertumbuhan hewan. Pada katak hormon ini merangsang dimulainya proses metamorfosis.
* Somatomedin, mempengaruhi pertumbuhan tulang.
* Ekdison dan juvenil, mempengaruhi perkembangan fase larva dan fase dewasa, khususnya pada hewan Invertebrata.

Kalau ingin mengetahui lebih lengkap lagi isi materi nya, silahkan di download link nya d bawah ini:

<a title=”View Hormon-Hormon Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Makhluk Hidup on Scribd” href=”http://www.scribd.com/doc/117668396/Hormon-Hormon-Yang-Mempengaruhi-Pertumbuhan-Makhluk-Hidup&#8221; style=”margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;”>Hormon-Hormon Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Makhluk Hidup</a>      <script type=”text/javascript”>(function() { var scribd = document.createElement(“script”); scribd.type = “text/javascript”; scribd.async = true; scribd.src = “http://www.scribd.com/javascripts/embed_code/inject.js&#8221;; var s = document.getElementsByTagName(“script”)[0]; s.parentNode.insertBefore(scribd, s); })();</script>

 

“Contoh Hasil Wawancara”

Published Desember 13, 2012 by afrizaldelfansonnbbn

♣♥

 ♣♥   HASIL WAWANCARA  ♣♥

 

Nama : Afrizal Nababan                               Waktu: Pukul 16.00-17.00, Jumat, 29 April 2011

Kelas : X-2, SMA N. 2 MERANTI              Pewawancara: Dedi Kerbit Siahaan.

B.Study: Tugas Bahasa Indonesia                Narasumber  : Pak Anto(Peternak Kambing sukses).

Topik wawancara: “Tehnik beternak kambing yang baik”

 

Dedi Kerbit: Selamat sore Pak Anto!. Perkenalkan, nama saya Dedi Kerbit. Tujuan saya data-

Ng kemari adalah untuk melakukan wawancara singkat dengan anda, selaku pe-

Ternak kambing yang sukses di Desa ini. Bersediakah Bapak untuk saya wa-

Wancarai?

Pak Anto    : Oooh… dengan senang hati nak Dedi. Malah, saya ingin diwawancarai untuk

Sekedar berbagi pengalaman dengan anda seorang Siswa.

Dedi Kerbit: Baiklah kita mulai wawancara nya. Sudah berapa lama bapak menjalani profesi

Profesi sebagai peternak kambing?

Pak Anto    : Sudah cukup lama nak Dedi. Sekitar 4 tahun, dan sudah banyak hal-hal baik su-

Ka maupun duka yang saya rasakan dari usaha beternak kambing.

Dedi Kerbit: Seperti apa wujud suka dan duka yang bapak rasakan selama menjalani profesi

Bapak sekarang ini?

Pak Anto    : Tentunya suka dan duka yang saya rasakan sangat beragam. Misalnya saja kalau

Suka yang saya rasakan adalah pada waktu hasil penjualan kambing saya terjual

Dengan harga mahal, dan produksi usaha kambing saya meningkat. Sedangkan

Kalau dukanya ialah ketika kambing saya banyak yang mati yang diakibatkan

Karena benyak kambing saya yang keracunan, dan sering terkena penyakit. Dan

Kadang kala kambing saya yang mau melahirkan banyak yang gugur, sehingga

Kambing saya tidak bertambah malah kurang.

Dedi Kerbit: Nah… dari sekian banyak suka dan duka yang bapak rasakan, apa langkah-lang-

Kah selanjutnya yang akan bapak lakukan agar hasil usaha ternak kambing ba-

Pak dapat meningkat dan memuaskan?

Pak Anto    : Kalau masalah langkah-langkah yang akan saya lakukan adalah saya akan lebih

Teliti dalam mengelola usaha ternak kambing saya, dan akan merawat kambing

Saya dengan berbagai pemberian khusus, seperti memberikan vitamin pada induk

Kambing, dan membersihkan kandang kambing setiap saat, yaitu tepatnya pada

Sore hari, sebelum kambing dimasukkan ke kandang.

Dedi Kerbit : Selain langkah- langkah yang bapak sebutkan tadi, adakah tips khusus yang di-

Butuhkan oleh para peternak kambing dalam meningkatkan produksi ternak

Kambingnya?, dan bagaimana cara special dalam meningkatkan penjualan ter-

Nak kambing, agar hasil yang diperoleh maksimum?

Pak Anto     : Ehhmm… sebenarnya kalau cara special sih nggak ada ya, cuman para peter-

                      Nak kambing perlu mengetahui tehnik beternak kambing yang   baik.Kalau ma-

                      Salah tips khusus yang dibutuhkan dalam beternak kambing banyak sekali be-

                      Berapa langkah-langkah khusus yang harus dilakukan untuk memperoleh hasil

                      Yang memuaskan dalam mengelola usaha ternak kambing.

1)

Dedi Kerbit: Apa saja langkah-langkah khusus yang harus dilakukan, seperti yang bapak se-

Butkan tadi?

Pak Anto    : Langkah-langkah khusus yang harus dilakukan antara lain yaitu:

1. Peternak perlu memilih bibit kambing yang baik dan sehat, serta tidak ada ke-

Cacatan pada bibit kambing, sebelum memelihara kambing tersebut!.

2. Peternak harus rajin membersihkan kandang kambing agar tidak mudah terse-

Rang penyakit, dan sebaiknya kotoran kambing tersebut di tampung dalam se-

Buah tempat khusus agar bisa dimanfaatkan untuk membuat pupuk kompos.

3. Peternak harus teliti dalam memelihara kambing, agar terhindar dari berbagai

Masalah, misalnya saja kambing tersebut mati karena digigit binatang buas, se-

Perti Anjing, dan hewan buas lainnya, dan misalkan saja ada anak kambing ya-

Ng gugur pada waktu dilahirkan, dan misalkan saja ada kambing yang jatuh dari

Kandangnya, yang mungkin karena kandang kambingnya sudah mau roboh, dan

Juga masalah pencurian kambing yang marak terjadi akhir-akhir ini. Semua ma-

Salah tersebut bisa diatasi jika para peternak teliti dan cermat dalam memelihara

Ternak kambing nya.

4. Peternak perlu memberikan vitamin pada kambing, khususnya kambing yang

Baru lahir, agar kesehatan kambing selalu terjaga, dan tidak mudah terserang

Penyakit, sedikitnya sekali sebulan.

5. Peternak harus merawat kambing dengan memberi makanan secukupnya seti-

Ap hari, dan segera mengobati kambing, jika ada kambing yang sakit.

Itulah beberapa langkah-langkah khusus yang harus dilakukan oleh para peter-

Nak kambing, agar bisa memperoleh hasil yang memuaskan dari usaha bisnis

Ternak kambing nya.

Dedi Kerbit: Wah… banyak juga langkah- langkah khusus yang perlu dilakukan ya Pak!.

Akan tetapi, mengapa akhir-akhir ini banyak para peternak yang sering menge-

Luh karena penjualan kambing nya, dibeli oleh para konsumen dengan harga

Murah?. Faktor apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi Pak?

Pak Anto     : Faktor yang paling dominan yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah di-

Karenakan kambing peternak kurang gemuk, dan dan daging nya kurang bany-

Ak pad waktu dikonsumsi oleh para konsumen. Hal ini disebabkan karena pe-

Ternak kurang memberikan makanan yang secukupnya agar kambing mereka

Bisa gemuk dan terjual dengan harga mahal, khususnya kambing betina.

Sedangkan kalau pada kambing jantan, harga kambing nya murah disebabkan

Oleh kambing tersebut mungkin kurang menarik perhatian para konsumen.

Karena itu, untuk mengatasinya, peternak perlu melatih kambing jantan nya se-

Tiap saat agar kambing bandot mereka dapat menarik perhatian para konsumen

Khususnya diperlukan dalam ajang pertarungan kambing bandot.

Dedi Kerbit: Oooh… begitu ya Pak!. Tapi, masalah harga kambing tidak terlalu menjadi be-

Ban bagi para peternak, sebab masalah penurunan harga kambing jarang terjadi

Selama para peternak bisa merawat kambing nya dengan baik.

Terima kasih banyak atas informasi yang bapak sampaikan!. Saya mendapatkan

Banyak pengetahuan dari wawancara kita ini Pak.

Pak Budi     : Sama-sama nak Dedi. Semoga apa yang kita perbincangkan ini, bisa menjadi

Modal bagi adik dalam mengelola usaha ternak kambing, mana tahu nanti nak

Dedi berminat untuk menjadi seorang Pengusaha ternak Kambing yang sukses

Seperti Bapak, atau setidaknya wawancara yang kita lakukan ini dapat menam-

Bah wawasan adik selaku seorang pelajar.

Dedi Kerbit : Mungkin bisa jadi seperti itu Pak!. Bisa saja nanti saya jadi terinspirasi untuk

Berbisnis ternak kambing. Sebab menurut saya, berbisnis ternak lebih mudah

Dari pada berbisnis pertanian. Tapi, pada dasarnya saya kemari, hanya sekedar

Melakukan wawancara dengan bapak, agar wawasan/pengetahuan saya bertam-

Bah.

Bahwa dalam berbisnis ternak kambing, sebenarnya tidak sesulit yang kita anggap selama ini, dan hanya memerlukan tehnik beternak yang baik saja dengan melakukan berbagai macam kriteria, yang antara lain terdiri dari: Niat/ dan kemauan yang paling utama, dan langkah selanjutnya yaitu merawat ternak kambing dengan seefisien mungkin untuk menghindari terjadinya gejala2 yang tidak diinginkan dalam beternak kambing. Selain itu, diperlukan kerja keras yang kuat dari para peternak dalam mengelola usaha ternaknya, agar dapat memperoleh hasil yang maksimum, juga dibutuhkan pengetahuan yang luas dalam memasarkan harga kambingnya, sebab kalau para peternak tidak mengetahui bagimana untuk membuat agar harga kambingnya terjual dengan harga mahal,maka peternak tidak bisa mendapatkan nilai tambah dari hasil produksi ternaknya. Oleh karena itulah, pengetahuan serta kreatifitas sangat diperlukan dalam berbisnis ternak kambing.

“Acara Natal Lakon Sifat Manusia

Published Desember 13, 2012 by afrizaldelfansonnbbn

Acara Liturgi Lakon Natal

Lakon Sifat-sifat Manusia.

(diperankan dengan gaya sifat-sifat itu).

1).Benci : Benci, benci… aku benci sekali sekarang ini. Aku benci melihat dia, aku benci melihat mereka dan aku benci melihat kamu, huuh… Begitulah sifat manusia yang sering muncul. Sedikit sedikit benci, melihat temannya cantik menjadi banci, melihat temannya pintar, menjadi banci bahkan melihat temannya yang disukai orang lain, dirinya semakin banci. Tetapi aku senang , ini membuktikan bahwa aku adalah sifat yang paling banyak dimiliki oleh manusia, hahahaha.

2). Marah : Hei benci, diam kamu. Bukan kamu yang paling banyak diminati manusia. Kamu salah, enak aja kamu bilang dirimu paling hebat. Akulah sifat yang paling banyak diminati oleh manusia. Kau hanya dimiliki oleh orang orang dewasa saja. Tetapi kalau sifat pemarah seperti aku ini, mulai dari anak kecilpun sudah ada. Kalau seseorang anak kemauannya tidak dituruti oleh orang tuanya maka dia akan marah, apalagi orang dewasa, hmmm maunya marah ter. Lihat saja sudah ada orang tua yang tega menganiaya anak-anaknya kalau dia marah, benar kan??! Itu artinya akulah yang dapat mamatahkan hubungan orang lain yang paling banyak di hati manusia, huh… dasar.

3). Sukacita : Lalalala… (bernyanyi atau bersenandung kecil) Hah?? Indah sekali dunia ini. Lihatlah pohon natal ini begitu indah, lampunya kerlap kelip, hiasannya yang cantik dan bunga-bunga yang berkembang. Aku juga menghirup udara sebebas-bebasnya, tanpa bayar alias gratis, hmhm (sambil menghirup udara). Aku adalah si sukacita. Dunia akan terasa selalu indah andai setiap orang mampu selalu bersukacita. Tetapi sayangnya orang banyak lupa untuk bersukacita karena keadaan. Ada yang bilang ‘terlalu sibuk’, ‘sembako mahallah’ sehingga orang malas bersukacita. Jangankan bersukacita, tersenyum saja malas, cemberut saja. Kalau saja setiap orang bersyukur untuk berkat Tuhan, pasti setiap orang akan lebih mudah untuk tersenyum.

4). Rendah hati : Kau benar sukacita. Kalau saja setiap orang bersyukur untuk setiap berkat yang diterimanya, maka setiap orang itu akan merasakan betapa Tuhan memberkati hidupnya dan memberikan ia rezeki. Memang setiap orang berbeda-beda rezekinya, tetapi bagi Tuhan setiap orang adalah sama. Di mata Tuhan tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah rezekinya dan bagi Tuhan tidak ada yang lebih terhormat atau yang hina, semuanya sama. Kalau setiap orang menyadari hal itu, maka mereka akan selalu bersukacita dan rendah hati?

5). Munafik : Alahhk tak usah muluk-muluk lah, karena di dunia ini sudah jarang sepeti itu. Kalau pun ada, itu tidak seberapa dan mungkin hanya pura-pura seperti aku. Aku kan bisa dipajangkan, munafik = muka nabi fikiran lain lain. Rugilah kalau punya muka cantik, mempunyai duit yang banyak, pekerjaan bagus, dan mempunyai baju cantik yang pantas dipamerkan seperti aku ini tetapi hatiku siapa yang tahu???? Jadi yang ada di dunia itu malah sering pura-pura baik alias purba, biar dia dapat dipuji, disanjung, jadi aku si munafik yang banyak diminati.

6). Pembohong : Ya, ya, ya kau benar munafik, manusia sekarang banyak yang munafik apalagi untuk membela dirinya. Tetapi kau harus sadar juga kawan bahwa awal dari pura-pura dan kemunafikan itu kan berasal dari aku si pembohong. Orang tua saja mau berbohong, apalagi anak-anak supaya mereka tidak dimarahi oleh orang tuanya. Pokoknya bohong lebih banyak disukai. Malahan lagu Sekolah Minggukan ada yang berbunyi  begini: ‘bohong, bohong, itu dosa’. Tetapi kenyataannya tetap saja mereka bohong. Hm… jadi akulah yang banyak diminati orang, hehehe…

7). Sabar : Akh, tidak juga koq. Lihatlah masih banyak orang yang memiliki sifat sabar seperti aku, misalnya orangtua. Mereka selalu sabar mendidik dan merawat anak-anaknya apalagi sejak kecil supaya tidak berlaku seperti kalian itu berbohong, pemarah, munafik. Malah orangtua banyak yang tidak tidur hanya karena menjaga dan memikirkan anak-anak mereka. Lihat juga para guru di sekolah dan di sekolah Minggu, mereka tetap sabar biarpun anak didiknya nakal. Jadi jangan bohong kau pembohong, masih ada koq yang sabar.

8). Pemaki : Apa kubilang… dasar kau sabar. Berapa banyak orangkah yang sabar sekarang ini, bisa dihitung dengan jari tangan. Sesabar-sabarnya mereka pasti akan memaki juga dalam hatinya. Apa benar masih ada orangtua dan guru-guru yang tidak mau memaki lagi? Jangan takabur kau, anak kecil sekarang saja buktinya gampang sekali diajari memaki, jadi akulah seharusnya dimahkotai, wehhhh.

9). Iri hati : What’s? Mahkota..? Apa tidak salah itu? Kau harus lihat dulu lebih jelas. Aku adalah iri hati. Kalian tahu bahwa saat ini sedang galak-galaknya manusia tidak senang melihat orang lain yang bahagia malahan senang melihat temannya sudah. Itu karena iri hati, tahu? Padahal dia tidak dirugikan kalau temannya senang, tetapi begitulah… namanya juga iri hati, hmmm.

10). Dendam : Stop, stop kalian tidak tahu malu, semua merasa paling hebat. Kalian harus akui diriku si pendendam. Lihat saja mereka yang sudah saling bermaafan tetapi kalau dendam tetap saja ada. Malahan ada kalimat seperti ini : ‘yah, memang kami sudah saling bermaafan, tetapi bagaimana ya aku belum sepenuhnya berbicara dengan dia’. Nah, itu kan sama saja dengan dendam. Jadi sifat seperti aku juga banyak di dunia.

11). Putus asa : Aduh, aduh, kalian itu banyak cerita saja. Lihat dulu siapa aku, si putus asa. Aku bisa membuat manusia hancur bahkan hancur lebur hingga bunuh diri. Tahu sendiri kan kalau manusia itu tidak siap untuk gagal, padahal terkadang kegagalankan adalah bagian dari hidup manusia dan manusia itu tahu, Cuma karena manusia tidak terima kegagalan. Kalau ada pergumulan langsung saja putus asa, ada gagal cari kerja, gagal bercinta eh… malah bunuh diri, pokoknya selalu putus asa. Jadi tidak apa-apa juga kalau aku bukan terbanyak . Tetapi akulah yang paling hebat, karena pemuka agama kurang perhatian kepada iman manusia, maka jadilah putus asa.

12). Kasih : (datang dengan diam dan tenang saja, sampai-sampai yang lainpun bertanya kenapa diam saja).

13). Banci : woi… diam aja, kamu sakit gigi ya? Apa yang bisa kau pamerkan?

Kasih: tidak ada yang perlu aku pamerkan kawan. Aku justru merasa gagal untuk memperjuangkan dan memperbanyak sifat kasih. Lihat saja sudah banyak orang Kristen yang malu berbuat kasih. Padahal ajaran utamanya adalah kasih. Tapi lihatlah…. Mereka malu bertindak kasih, takut diejek orang, pokoknya gimanalah biar dia dibilang alim dan biar dijauhi orang lain. Lihatlah dunia ini, seandainya kasih lebih banyak, maka tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi permusuhan, penganiayaan dan tidak ada lagi kekerasan. Padahal Yesus datang ke dunia ini hanya karena kasihnya kepada manusia, tetapi mengapa hai manusia semuanya menjadi kacau…… hah (sedih).

14). Penghibur : hai sobatku, kau tidak gagal… kau berhasil. Kalaupun sekarang ini sifat-sifat mereka yang menonjol (menunjuk kearah sifat benci, dendam dll. Tapi percayalah sudah banyak manusia kini sudah banyak mulai mengasihi. Lihat saja gereja-gereja semakin berkembang, para penatua semakin banyak, acara ibadah sudah semakin banyak, kunjungan-kunjungan social juga sudah semakin digalakkan. Manusia sudah mulai mencoba untuk saling mengerti dan saling menerima, dan memang benar seperti yang dikatakan Yesus bahwa banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih.

15). Rendah hati : Aku setuju. Bukankah setiap orang akan menuai apa yang ditanamnya?

16). Sabar : Betul, dan setiap orang harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya. Masa penghakiman akan datang dan Tuhan akan memberi mahkota bagi setiap orang yang pantas menerimanya. Kalian semua  (menunjuk kearah sifat-sifat jelek) apakah kalian senang kalau dunia ini kacau balau? Ketahuilah kelak kalian juga akan menerima upahnya. Kalian akan dihukum Tuhan dan akan dicampakkan ke dalam api neraka. Apakah itu yang kalian mau?

17). Semua sifat-sifat jelek  sambil tertunduk : Ampun… tidak… jangan… kami tidak mau dipanggang dalam api neraka. Katakanlah apa yang harus kami perbuat  agar selamat.

18). Kasih : Benarkah kalian mau? Aku sangat senang mendengarnya. Bertobatlah, kembali kepada Tuhan. Percayalah bahwa ampunan Tuhan pasti selalu ada.

Berserahlah kepadaNya, karena Dia yang telah lahir dikandang domba, disalibkan dan mati, yang telah bangkit dan naik ke sorga selalu menantikan anak-anakNya kembali. Tanggalkanlah sifat burukmu dan mulailah hidup baru. (Sifat-sifat jelekpun menggoyangkan selempang sifat yang ada pada mereka).

19). Sukacita : Hore… dunia akan tetap indah, senyum akan terasa kembali karena kedamaian diam di antara kita, maka aku mau hidup seribu tahun lagi. Terima kasih Tuhan Yesus.

Sambil bergandengan tangan menyanyikan lagu: Kasih itu lemah lembut, kasih itu memaafkan, kasih itu murah hati, kasihMu sungguh tiada taranya. Ajarilah kami ini saling mengasihi, ajarilah kami ini saling mengampuni, ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan, kasihMu sungguh tiada taranya.

 

IV. Liturgi Ragam Profesi                                                        

(dengan pakaian dan gaya profesi)

Prolog: Karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa, maka hatinya selalu dikuasai oleh iblis sehingga manusia itu hanya mau memikirkan dirinya sendiri dan menganggap hanya dirinya yang baik di antara sesamanya, terlebih lagi karena dia mempunyai pekerjaan yang dapat memberikan keuntungan kepada orang lain. Manusia itu menjadi egois dan tinggi hati. Inilah liturgi beragam profesi.

1). Petani: Aku seorang petani yang pada mulanya dikatakan Tuhan dalam kitab Kejadian 3:17d “Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” maka aku mengerjakan tanah ini agar dari tanah yang kutanami padi dan tumbuh-tumbuhan lainnya dapat menghasilkan. Aku bekerja mulai dari pagi hingga sore dan tidak mengenal lelah. Aku mencangkul dan mengolah tanah supaya ada bahan makanan. Itu berarti pekerjaanku tepat sekali, dan kalau aku tidak ada, pastilah kalian tidak bisa makan.

2). Artis: (sambil menyanyikan satu kata lagu). Aduh teman-teman semua, nih penampilanku, akulah yang paling benar. Pekerjaanku menghibur orang dan aku selalu terhibur. Aku selalu diperlihatkan oleh khalayak ramai dan aku selalu membuat orang tertawa. Akulah public figure yang selalu bersih dan cantik sehingga membuat orang banyak simpatik.

3). Tukang Ojek: Memang, supir itu penting… namun apakah supir dapat mengantar kamu sampai ke pelosok –pelosok kampong? Hanya ojek yang bisa melalui jalan sempit maupun jalan setapak, apalagi kalau pulang orang rantau mau antar ke kampong yang tidak bisa dilalui mobil, biar juga mereka punya uang untuk bayar taksi tapi akulah yang antar mereka sampai ke tempat.

4). Pendeta: Saudara-saudari yang kekasih dalam Yesus Kristus, marilah kita sejenak merenungkan arti pekerjaan kita masing-masing . Perlu juga merenung mengapa kita ada di dunia ini, dan untuk apa kita tercipta di dunia ini yaitu supaya kita saling menolong dan melengkapi. Kalaupun kita memiliki profesi yang berbeda, itu semua adalah berkat Tuhan. Ingatlah saudara-saudara bahwa kita adalah ciptaan Tuhan. Dialah yang memberikan jabatan dan profesi dalam pekerjaan kita agar kita mengabdi kepadaNya melalui pekerjaan kita masing-masing. Kalaupun kita harus bekerja, syukurilah karena itu kita lakukan untuk kemuliaanNya saja agar apa yang kita kerjakan itu dapat menghasilkan sukacita bagi kita dan orang lain juga. Karena itu, janganlah kita menjadi sombong dan membanggakan diri, tetapi marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan supaya kita ditinggikan karena ada tertulis dalam Yakobus 4:10 “Rendahkanlah dirimu dihadapanNya maka ia akan meninggikan kamu”. Marilah kita kerjakan dengan baik profesi kita tersebut karena Bapa di sorgapun masih bekerja seperti yang dikatakan Yesus dalam Johannes 5:17b; ”BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”. Amin.

 

Liturgi Dialog.

(Oleh Tiarma Siahaan & Marino Sihombing)

Prolog: Natal memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang, tergantung pada pengalaman mereka di saat-saat natal, ada yang berpikir natal itu menyenangkan, namun ada juga yang menyatakan bahwa natal itu bagitu menyedihkan.

 

1). Anak Sekolah Minggu: Natal… itu menyenangkan banget…!!!

                                               Dibeli baju baru, sepatu baru, banyak hadiah pokoknya seru deh..

2). Anak jalanan                : Kalian sih enak, bagaimana dengan kami. Natal itu begitu suram,   

                                                             Jangankan baju baru makanpun tidak, kami hanya bisa menangis   melihat kemewahan di sekitar kami. Kami semakin terlupakan. Tuhan tolonglah kami…!

 

3). Anak Remaja          : Wah itu sih gak zamannya lagi dek!! Dikalangan kami Natal sih begitu luar biasa apalagi disaat-saat latihan natal, kesempatan dong ketemu cewek-cewek cantik, cowok-cowok ganteng, dengan alasan sama orangtua latiha Natal. Martina gitu lho…!!!!!!!!!

4). Naposo Bulung          : Ok banget tuh..! itu memang benar, selain martina kita mau tunjukkan bahwa kita mampu membuat Natal yang sangat hebat dan meriah sehingga dapat sumbangan dana dari donator-donatur yang terkenal. So pasti banyak untungnya kan. Jadi Natal itu adalah ajang bersenang-senang dan mencari untung.

5). Orangtua                       : Dasar anak muda!. Kalian tidak pernah memikirkan orangtua kalian..’

                                                   Pusing.. pusing… sekali!!!!!! Kalau sudah natal kepalaku pusing  sekali, sikit-sikit uang ,…. sikit-sikit uang,….beli bajulah, beli sepatulah, hadiahlah.

                                                    Semua serba uang, bisa-bisa akupun dijual demi uang.. bagaimana tidak anak saya ada Sembilan semua minta beli baju baru…. Wah uang-uang pusing….!

6). Pedagang                       : Wah kan bagus itu buat kami.

                                                    Natal..natal wah sangat menyenangkan barang-barang habis semua, harganyapun sangat tinggi sehingga aku banyak untung…

                                                    kalau saja natal sebulan sekali pastilah aku kaya raya.. terima kasih  natal, kau telah buat aku banyak uang walaupun aku harus capek. Tapi aku dapat banyak untung….!

7). Karyawan perusahaan: Saya juga senang sekali dengan adanya natal saya bisa liburan, kan capek kalau kerja terus…. Dengan natal saya bisa bersenang-senang, jalan-jalan, belanja-belanja, semuanya deh..

8). Polisi                               : Natal… ah repot deh!

                                                Lalu lintas padat, macet,,,, macet,,,, macet banget!!

                                                   Kecelakaan banyak semuanya pada liburan. Aku sungguh lelah..       walaupun semuanya orang liburan saya harus tetap kerja bukan  hanya menjaga jalan, gereja juga harus dikawal soalnya banyak kerusuhan yang terjadi, ia tidak…

9). Biblevrouw                    : Syalom saudara-saudariku bertobatlah sebab natal adalah sukacita,

                                                sebab natal adalah sukacita sebab Yesus telah lahir, mati, bangkit

                                                dan naik ke sorga hanya karena dosa-dosa kita. Hari ini marilah kita

                                                mengundang Yesus lahir kembali di dalam hati kita seperti Firman

                                                Tuhan berkata dalam (Mazmur 126:3)

                                                “Tuhan telah melakukan per-ra besar kepada kita, maka kita bersukacita”.                                               

 

Liturgi IV Situasional (Refleksi dari Amos 5:12-17).

 

1). Pelayan Gereja:

      Apakah yang seharusnya dilakukan Gereja dalam pelayanannya kepada dunia yang penuh  dengan ke- jahatan dan ketidakadilan? Disana sini terlihat penindasan, kekerasan kepada pekerja dan buruh, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan kepada anak. Ada lagi penganiayaan Gereja dimana umatMu tidak diperbolehkan membangun Bait SuciMu.

2). Muda/mudi Gereja:

     Apakah yang harus kita lakukan sebagai orang muda di Gereja ketika kita melihat betapa  banyaknya Pengangguran, betapa banyaknya orang-orang muda jatuh ke dalam pencobaan, betapa banyaknya orang-orang muda hidup dalam pergaulan bebas, betapa banyaknya orang-orang muda hidup dalam dunia NARKOBA, betapa banyaknya orang muda hidup dalam keputusasaan. Marilah kita bangkit berdiri karena Kristus menguatkan kita dengan Roh KudusNya.

 

3). Kaum Ibu:

      Tuhan, di dalam kekerasan hati dan kedegilan kami dalam mendidik anak-anak kami, kami   menjadi gagal tetapi Engkau tidak mencampakkan kami sebab kami berharga di hadapanMu. Banyak kaum perempuan di negeri kami yang tega membuang anaknya, ada yang tega menganiaya dan mendidik dengan penuh kekerasan.

     Banyak pula perempuan yang bekerja  keras untuk menghidupi keluarganya sementara suami-suami mereka tidak memikirkan kesehatan dan kesejahteraan para istri mereka dan anak-anak mereka, apakah yang akan kami lakukan dengan situasi demikian?

4). Kaum Bapak:

      Tuhan, Engkau adalah tanduk keselamatan bagi setiap orang yang hina dan teraniaya;  kiranya Engkau menuntun para pemimpin gereja untuk mengingatkan kami kaum bapak  agar ikut serta membangun kerohanian jemaatMu terutama di tempat kami tinggal masihbanyak kaum bapak yang malas ke Gereja, tetapi malah rajin ke kedai tuak dan warung kopi. Tuntun juga dengan tangan kananMu para pemimpin bangsa agar dapat memikirkan hal-hal yang baik bagi kami. Apakah yang harus kami lakukan dalam keadaan seperti ini?

5). Pemerhati Lingkungan:

        Tuhan Maha pencipta alam semesta, apakah yang harus kami perbuat lagi   atasciptaanMuyang telah dirusak oleh sebagian orang untuk mengeyangkan perutnya sehingga merusak diri kami sendiri bahkan mengambil nyawa saudar-saudara kami karena korban banjir, longsor dan polusi udara?

    Kami tidak mampu menatap alam yang indah lagi karena ulah manusia yang merusak alam    kami, menebang pohon, menimbun sampah di selokan dan membuat pabrik raksasa tanpa memperhitungkan kesegaran udara di sekitar kami.

  

6). Pendidik:

      Perhatikanlah ya Tuhan seruan umatMu, betapa kami sangat susah mendidik anak-anak  kami karena Perkembangan zaman komputerisasi. Anak-anak kami lebih suka mencari pengetahuan  yang tidak layak karena hanya memuaskan nafsu mereka saja yang semua itu sangat mudah diperolehnya dari internet di dalam computer dan hanphone.

     Bagaimanakah kami melakukan HukumMu untuk mendidik dan mengajar anak-anak kami tersebut? FirmanMu berkata dalam Amsal 22:15 “Kebodohan melekat pada orangmuda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya”.

     Mampukanlah kami melakukan tongkat didikan yang dari padaMu saja.

 

7). Pemerhati Sosial:

      Kacau balau. Kerusuhan dan anarki serta terorisme menimpa negeri kami ya Tuhan sehingga  kami merasa hidup kami terancam. Apakah yang harus kami lakukan untuk keadaan yang kacau balau ini?

     Engkau berkata supaya kami jangan takut karena Engkau menyertai kami sampai kesudahan  zaman. tetapi kami sering tidak melihat pertolonganMu karena ketakutan kami lebih besar dari pada kekuatanMu. Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.

      Merenung…. Sejenak diiringi music (selama 1 menit).

 

Makalah Agama tentang “Hubungan Gereja Dengan Negara”

Published Oktober 27, 2012 by afrizaldelfansonnbbn
  • MOTTO:“Hidup tanpa iman, adalah hampa. Sebab, anegerah dan berkat dari Tuhan selalu mengalir buat orang-orang yang mempunyai iman yang teguh serta kasih yang tulus yang tercermin dari perbuatan kita”

    “Janganlah kamu khawatir akan segala apapun, Sebab Tuhan telah menyediakan yang terbaik buat kehidupan mu, dan lakukanlah apa yang baik yang sesuai dengan ajaran firmanNya, maka Engkau akan beroleh kehidupan yang kekal”

    “Gereja dengan negara bagaikan angin sepi-sepoi yang hanya datang sejenak lalu hilang dan pergi begitu saja, yang dalam pengertiannya gereja dipandang sebagai penopang keselamatan dosa manusia yang hanya di lakukan hanya sebatas penunjuk identitas saja, lalu pergi dengan arah yang tak tentu”.

    ix.

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), yang mana masih memberikan kesempatan kepada penulis untuk menerbitkan karya tulis Makalah ini yang bertopik tentang “Hubungan Gereja Dengan Negara”. Makalah ini disajikan dengan metode penggunaa bahasa yang lugas serta efektif, sehingga mudah dipahami oleh para pembaca. Selain itu juga mengandung unsur-unsur nilai budaya yang tercermin di dalam kehidupan masyarakat Kristiani.

    Kita mengetahui bahwa Gereja adalah tempat ibadah umat Kristiani, dan Gereja sering kali mengalami problema yang manjadi acuan bagi suatu negara. Kadang kala berdirinya suatu gereja, tidak didukung dengan adanya jaminan stabilitas keamanan untuk beribadah serta pembangunan infrastruktur gereja yang kurang memadai. Dewasa ini, sering sekali terjadi kasus-kasus pengeboman gereja dan bahkan sudah hampir sampai ke pelosok-pelosok pedesaan. Nah, ini yang menjadi perhatian kita bersama, mengapa di dalam suatu negara keberadaan gereja bukanlah menjadi sesuatu yang dianggap lebih penting dan didahulukan, melainkan hanya sebagai pelarian semata saja untuk melengkapi identitas agama seseorang saja yang menyatakan bahwa ia termasuk umat kristiani.

    Di dalam Alkitab diterangkan bahwa Yesus pernah memarahi orang-orang yang menyalahgunakan gereja sebagi tempat berdagang dan berjudi. Ia mengatakan “Mengapa kamu menjadikan rumah Bapa ku sebagai tempat berjualan?. Rumah Bapaku adalah tempat untuk memuji dan menyembah Allah, serta untuk beribadah, dan bukan sebagai tempat berdagang?.

    Oleh karena itu, marilah kita sadari dan kita renungkan bersama, tentang bagaimana cara kita sebagai umat Kristiani untuk dapat menyelamatkan kedudukan gereja di dalam negara sebagai acuan dan perhatian Publik, agar hubungan gereja dengan negara menjadi suatu hal yang lebih diprioritaskan, sehingga gereja betul-betul menjadi tempat yang suci, dan tempat pembawa berkat bagi seluruh umat Kristiani. Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan ataupun

    ketidaksesuaian dari pada isi Makalah ini. Oleh karena itu, Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian.

    Salam hangat.

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1). Latar Belakang Masalah.

    Gereja dan negara memiliki hubungan yang berbeda di sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Hubungan tersebut terbina dengan adanya relasi antara pemerintah dalam negara dengan pemerintahan dalam gereja. Hubungan yang bervariasi tersebut diwarnai oleh berbagai peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia. Ada kalanya ketika gereja dan negara benar-benar terpisah. Akan tetapi dalam suatu masa sejarah tertentu, negara dan gereja menyatu. Demikian juga ada masanya ketika gereja dikuasai sepenuhnya oleh negara dan sebaliknya ada masa dalam sejarah perkembangan gereja ketika negara dikuasai oleh gereja.

    Sejarah Gereja membuktikan bahwa ketika gereja menjadi “gereja-negara” dan negara menjadi “negara-gereja”, keduanya berakhir pada jalan buntu. Tatkala negara mendominasi (Gereja), gereja direduksi menjadi hanya lembaga sekular manusiawi. Padahal Gereja adalah persekutuan rohani yang dibentuk Allah sendiri. Sebaliknya, ketika Gereja mendominasi (negara), negara disakralkan, dan kebijakan negara (politik) disejajarkan dengan isi wahyu. Tanpa pemilahan yang jelas, hubungan keduanya justru menjadi carut-marut. Keduanya saling eksploitasi dengan aneka trik. Kredibilitas keduanya merosot dimata umat. Pemilahan antara kedua saudara kandung tersebut harus diperjelas teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Umat Allah (Gereja) semestinya membedakan peran mereka dalam politik di satu pihak sebagai pribadi atau kolektif selaku warganegara, dan di lain pihak berperan dalam tugas kemanusiaan atas nama Gereja. Gereja sebagai institusi harus menghindarkan diri dari keterlibatan politik (praktis) berdasarkan agama yang dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarakat majemuk. Di samping itu, bila menyimak pelbagai praktek politik berbasis agama, agama biasanya hanya menjadi palu di tangan politisi, yang setelah dipakai kemudian dilempar kembali ke kotak perkakas.

    Negara merupakan organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Oleh karena itu sebuah negara terbentuk dengan adanya wilayah atau teritorial yang diakui secara internasional. Tidak hanya wilayah yang menjadi persyaratan utama berdirinya sebuah negara, akan tetapi harus ada masyarakat atau kumpulan masyarakat yang berada di bawah kepemimpinan dalam negara tersebut. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa negara tidak akan terbentuk jika tidak memiliki unsur-unsur wilayah, rakyat dan sekaligus kepemimpinan.

    Sekalipun banyak perbedaan dalam pengertian antara negara dan gereja, namun definisi secara umum memiliki persamaan yaitu keduanya merupakan sebuah organisasi yang memiliki kepemimpinan. Kepemimpinan yang memiliki ruang lingkup berbeda, tetapi bersama-sama memiliki anggota yang terlibat dalam organisasi keduanya.

    Bagi kita di Indonesia, hubungan gereja dan negara itu juga ditentukan oleh konteks sejarah. Pada masa Hindia Belanda,  terjadi sub-ordinasi negara terhadap gereja. Gereja diperalat untuk kepentingan keuntungan kekuasaan, ekonomi VOC dan pemerintahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah cenderung mengintervensi kehidupan beragama, khususnya pada masa Orba. Intervensi itu misalnya adalah pelarangan aliran tertentu, pengaturan pendirian rumah ibadah, palaksanaan misi atau dakwah, dll.

    Pemisahan kekuasaan gereja dan negara merupakan hal yang mendasar. Tetapi tidak berhenti di situ. Harus dibarengi penekanan peran agama bagi masyarakat. Gereja—mewakili agama, merupakan perwakilan umat yang membawa doa syafaat kepada Tuhan dan berkat kepada umat. Tujuan gereja adalah menjadi terang dan garam dunia. Membawa manusia kembali ke Sang Pencipta. Dan terbukti peran gereja tak tergantikan dalam pembentukan suara hati nurani. Meski dalam satu waktu, berada di bawah tekanan penguasa.

    Alkitab menjabarkan negara dan gereja sebagai dua institusi terpisah dengan fungsi dan yuridisnya masing-masing. Pemisahan ini digambarkan dengan negara sebagai pedang (Rm. 13:4) dan gereja sebagai kunci (Mat. 16:19). Sesuai dengan peran dan fungsinya, gereja berhadapan dengan dosa. Gereja memegang otoritas untuk menutup pintu Kerajaan Allah bagi orang-orang yang tidak mau bertobat dan membuka jalan keselamatan bagi orang-orang berdosa yang mau bertobat.

    2). Rumusan Masalah.

    Dalam penulisan karya tulis makalah ini, penulis menyusun sketsa penulisan yang terdiri dari Sejarah lahirnya gereja, Seluk beluk perkembangan gereja disuatu negara, Tugas dan Fungsi gereja di dalam suatu negara, serta pendapat Pendapat para Tokoh tentang ruang lingkup gereja dengan negara.

    Penulis juga menjabarkan tentang keberadaan dan kedudukan gereja di dalam negara, sehingga dengan adanya penjabaran ini, para pembaca dapat mengetahui dan lebih memaknai tugas dan panggilan umat Kristen di dalam gereja. Penggunaan bahasa didalam makalah ini disajikan dengan bahasa yang lugas dan efektif serta di rangkum secara objektif.

    Adapun, patokan dasar yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah membahas tentang masalah Hakikat Gereja di dalam suatu negara, yang menguraikan tentang perjalanan gereja yang begitu menyakitkan dan mengharukan yang mana para pemimpin gereja dan para Tokoh-tokoh gereja telah bersusah payah untuk menjadikan gereja sebagai tempat peribadahan yang sesuai dengan ajaran Alkitab, dan hingga saat ini pun gereja masih saja mengalami masalah dalam melaksanakan tugas dan panggilannya untuk melayani firman Tuhan serta menyebarkan ajaran-ajaran Tuhan kepada seluruh umat Kristiani.

    Adapun format penulisan masalah dalam Makalah ini, diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk pertanyaan yang terdiri dari:

    1). Bagaimana pandangan umat Kristen tentang keberadaan dan kedudukan gereja di dalam ne-

    gara?

    2). Apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh umat Kristen untuk menyelamatkan ge-

    reja dari dari segala bentuk ancaman dan diskriminasi?

    3).Mengapa perjalanan gereja hingga saat ini masih saja mendapat tantangan dan problema yang

    begitu menekan ketenteraman umat Kristen untuk beribadah?

    3). Maksud dan Tujuan Penulisan:

    Adapun maksud dari pada penulisan makalah ini adalah untuk menyadarkan kita semua sebagai umat Kristiani yang taat akan agama, agar mau berusaha dan berjalan sesuai dengan ajaran Tuhan dalam menyelamatkan gereja dari segala bentuk ancaman diskriminasi yang mengganggu ketenteraman dalam beribadah dan mengajak pihak-pihak lain agar mau berpartisipasi membangun dan mewujudnyatakan fungsi pelayanan gereja yang diharapkan oleh seluruh lapisan umat Kristen. Selain itu, Penulis juga bermaksud menulis makalah ini sebagai acuan informasi tentang stabilitas keberadaan gereja di dalam suatu negara, terlebih-lebih di negara Indonesia, yang saat ini belum bisa dikatakan sepenuhnya bahwa gereja dijadikan sebagai fondasi bagi warga negara umat Kristen, dalam tatanan kehidupannya sehari-hari yang tidak melanggar dari firman Tuhan dan Hukum Taurat. Oleh sebab itu, Penulis berusaha bermaksud untuk mendeskripsikan penjelasan secara detail dan akurat mengenai Hubungan gereja dengan negara.

    Sedangkan Tujuan dari pada penulisan Makalah ini yaitu antara lain:

    1). Mengetahui sejarah perjalanan gereja sebagai pelayan firman Tuhan.

    2). Mengetahui kondisi dan keadaan gereja di dalam negara yang menjadi landasan bagi kita

    untuk lebih mementingkan serta memprioritaskan pelayanan dan misi dari tugas pokok gereja.

    3). Agar kita tahu betapa beratnya tanggung jawab dalam menjalankan prasyarat dan perwuju-

    gereja yang nasionalis serta tidak timpang tindih dalam melakukan pelayanan firman.

    4). Untuk menjadi proses pembelajaran bagi kita terutama bagi kalangan remaja Kristiani, agar

    Mampu berfikir lebih dewasa, dan bertindak dengan objektif dalam mengemban kewajiban

    Untuk melaksanakan kegiatan peribadahan yang lebih baik.

    5). Sebagai referensi bagi kita untuk lebih konsisten dalam karya penyelamatan gereja.

    4). Metode Penulisan

    Metode yang kami gunakan dalam penyusunan Makalah ini terdiri dari beberapa Metode yang secara bertahap akan kami lakukan dalam mengkaji dan menggali lebih dalam lagi informasi-informnasi maupun data-data yang lebih akurat tentang situasi Hubungan gereja dengan dengan negara, dan Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk lebih mewujudkan cita-cita gereja yang suci dan berbudi luhur.

    Adapun metode yang kami maksud yaitu antara lain:

    a). Metode Wawancara dan Interview.

    Dalam metode wawancara kami akan melakukan kegiatan wawancara langsung dengan sejumlah Tokoh gereja yang mengabdikan dirinya sebagai pelayan tugas panggilan Gereja, dimana nantinya kami akan meringkas hasil wawancara kami tentang pendapat dan tanggapan mereka tentang Hubungan gereja dengan negara. Selain itu kami juga akan melakukan kegiatan Tanya jawab singkat dengan para kaum nasrani tentang tanggapan dan kritikan dari mereka tentang Hubungan gereja dengan negara dalam pandangan status tempat Peribadahan .

    b. Metode Observasi

    Dalam metode ini, kami akan turun langsung ke lapangan dan mengamati keberadaan gereja dalam lingkungan masyarakat, terutama lingkungan terpencil, dan mengunjungi beberapa gereja yang kondisinya belum mendapat perhatian dari Pemerintah dalam membangun sarana dan prasarana gereja yang memadai dan lebih layak di jadikan tempat ibadah yang aman dan nyaman.

    c). Metode Angket/daftar isian

       Dengan metode ini, kami akan menyajikan data dalam bentuk pembukuan, dimana data tersebut nantinya akan kami ringkas dengan penggunaan bahasa yang koheren, sehingga pokok pembicaraan yang kami lakukan dengan narasumber dapat di muat dalam bentuk kesimpulan yang lebih singkat dan bermakna.

    BAB II

    PEMBAHASAN

    Hubungan antara Gereja dan Negara dalam Sejarah

    Dalam sejarah, gereja dan negara memiliki beberapa bentuk hubungan. Pada bagian ini akan dibahas mengenai hubungan yang terjadi antara gereja dan negara. Banyak orang berpikir bahwa gereja dan negara merupakan dua hal yang sangat berbeda. Sehingga mereka menyatakan bahwa negara dan gereja tidak boleh memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu ada orang yang memiliki pemahaman bahwa gereja dan negara harus saling berhubungan. Artinya gereja sebagai pembina rohani harus memiliki tanggung jawab penuh terhadap negara. Negara harus berada di bawah pengawasan dan kontrol gereja. Pandangan lain menyatakan bahwa negara harus berperan penuh dalam perkembangan yang terjadi di dalam gereja. Artinya negara harus mengontrol gereja. Berbagai pandangan tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikut.

    Gereja Terpisah dari Negara

    Gereja dalam kapasitasnya sebagai sebuah lembaga kerohanian, merupakan sebuah organisasi ayng terbentuk di dalam suatu wilayah tertentu. Wilayah yang dimaksud tentunya memiliki struktur pemerintahan. Artinya adalah gereja yang terbentuk di dalam negara atau teritorial kekuasaan yang diatur oleh hukum yang berlaku dalam negara tersebut.

    Pada awal terbentuknya gereja (persekutuan orang percaya),[5] gereja benar-benar terpisah dari negara. Keterpisahan yang dimaksud adalah gereja tidak mengambil bagian apa-apa di dalam strukturpemerintahan atau negara. Demikian juga dengan negara, pemerintah tidak ikut andil dalam terbentuknya sebuah organisasi gereja, baik itu dalam lembaga maupun secara kerohanian. Keduanya berjalan menurut aturan amsing-masing, tidak memiliki tujuan yang sama. Pluralisme merupakan salah satu penyebab negara tidak terlibat dalam gereja. Plural dalam hal tersebut adalah keanekaragaman kepercayaan masyarakat yang ada dalam negara tersebut. Beranekaragamnya kepercayaan tentu membuat negara tidak dapat memberikan perhatian khusus kepada gereja, karena tindakan seperti itu akan dianggap sebuah ketidakadilan yang dilakukan oleh negara.

    Gereja terbentuk dalam kebudayaan helenis (Romawi). Terbentuknya gereja dalam kebudayaan tersebut memberikan keterangan bahwa gereja terpisah dari negara. Keterpisahan itu disebabkan oleh negara yang tidak menganut paham seperti gereja. Romawi adalah negara yang masyarakatnya menyembah kepada banyak dewa (politheisme). Sedangkan gereja mengajarkan untuk monotheis, yaitu menyembah hanya pada satu Tuhan saja.

    Sistem kekaisaran dalam negara Romawi membentuk sebuah kepercayaan bahwa seorang kaisar adalah titisan dewa yang harus disembah. Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan ajaran gereja. Berkhof dan Enklaar menyatakan, “Ibadat kepada kaisar adalah salah satu pernyataan yang sangat penting dari hidup keagamaan pada permulaan tarikh Masehi. Sebuah pandangan yang muncul dari dunia Timur, yakni bahwa kaisar mempunyai kuasa mengatasi dunia kodrati (alamiah), bahkan ia berasal dari dunia ilahi”.[7]

    Selain kepercayaan dan keyakinan yang berbeda antara negara dan gereja pada masa itu, hal lain yang menyebabkan keterpisahan gereja dan negara adalah “penganiayaan”. Penindasan yang muncul dari ketakutan pemerintah akan kekristenan menarik banyak masyarakat Roma. Kekristenan menyebabkan banyak warga Roma tidak lagi melakukan penyembahan kepada salah satu dewa atau dewi Romawi. Hal tersebut tentu merusak sistem negara yang telah terbentuk.

    Berkhof dan Enklaar memberikan beberapa data mengenai penyebab “pertikaian” atau penganiayaan terhadap gereja pada abad pertama. Mereka menyatakan,

    Mula-mula negara Romawi menganggap kaum Kristen sebagai mazhab Yahudi, sehingga merekapun bebas melakukan agamanya. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa agama itu terbentuk dari seorang yang tersalib oleh pengadilan Romawi sendiri. Kemudian orang Kristen dianggap sangat berbahaya bagi negara. Kebanyakan pengikutnya adalah orang Romawi dan Yunani. Mereka tidak lagi ikut beribadat pada dewa-dewi. Semua dewa-dewi disangkal, mereka hanya menyembah kepada satu Allah saja. Sehingga mereka disindir dengan julukan “orang-orang yang tak berdewa”. Dengan berkembangnya kekristenan, maka persembahan di rumah dewa/berhala menjadi berkurang…Pendeknya, kaum Kristen dibenci karena berlainan dengan masyarakat umum. Adanya bencana alam diasosiasikan sebagai murka dewa-dewa karena banyak orang yang tidak mempersembahkan korban.[8]

    Pandangan negara yang negatif terhadap kekeristenan menyebabkan timbulnya penghambatan terhadap gereja. Beberapa penghambatan yang terjadi antara lain:[9]

    1. Sekitar tahun 64 M, Kaisar Nero mempersalahkan (lebih tepatnya mengkambing hitamkan) orang Kristen karena kebakaran besar yang memunahkan sebagian dari ibu kota negeri itu. Kristiyano menulis mengenai sikap Nero sebagai berikut,

    Kaisar Nero menerapkan sikap bermusuhan terhadap orang Kristen. Ia merestui penganiayaan terhadap orang Kristen yang dianggapnya takhayul. Untuk meredam keributan di sekitar terbakarnya kota Roma, Nero menuduh orang Kristen sebagai pelakunya. Komunitas Kristen dituduh sebagai kelompok yang membenci manusia (odium humanis generis atau misanthrophia).[10]

    Gereja Menguasai Negara

    Keadaan yang terjadi setelah gereja mengalami penganiayaan yang sangat panjang adalah “gereja menguasai negara”. Situasi yang telah lama mencekam gereja (orang percaya) akhirnya berbalik. Dari penganiayaan negara (pemerintah) terhadap gereja berbalik menjadi pengakuan yang dialami oleh gereja terhadap negara. Sejarah mencatat dari penganiayaan gereja lambat laun berubah menjadi pengakuan yang absolut terhadap gereja atau kekristenan.

    Pengakuan yang absolut tersebut terjadi ketika Constantine (Konstantin) memegang tampuk pemerintahan. Mengenai sejarah diakuinya kekeristenan oleh negara di bawah pemerintahan Konstantin, Rick Joyner menuliskannya sebagai berikut:

    Pada tahun 313M, penganiayaan kekaisaran Romawi terhadap umat Kristen tiba-tiba secara resmi dihentikan. Kemudian, tersebar berita bahwa kaisar Constantine sendiri menyatakan diri sebagai orang Kristen. Untuk memahami perubahan yang radikal ini, kita harus kembali ke tahun 306, ketika Constantine menjadi kaisar Romawi. Masa itu merupakan masa perang saudara yang berkepanjangan, karena banyak pihak yang berusaha memperebutkan takhta kekaisaran Romawi. Constantine merasa bahwa kampanyenya melawan Maxentius, salah satu pesaingnya, akan mementukan siapa yang menjadi penguasa tunggal kekaisaran. Pasukan kedua musuh ini bertemu di Jembatan Mulvian di atas Sungai Tiber dekat Roma.

    Constantine mengetahui bahwa ia memerlukan pertolongan ilahi untuk memenangkan peperangan ini.

    Kabar burung menyebutkan bahwa ia bersimpati kepada orang-orang Kristen oleh karena istrinya, Fauta, telah memeluk agama Kristen. Constantine berdoa meminta pertolongan, dan Allah memberikan penglihatan kepadanya tentang sebuah salib terang, yang bertuliskan “in hoc signo vinces” (dengan tanda ini, engkau akan memperoleh kemenangan).

    Constantine mengungkapkan bahwa ia juga bermimpi yang sama pada waktu malam. Dalam mimpi tersebut “Sang Kristus Allah” menampakkan diri kepadanya dengan tanda yang sama yang telah dilihatnya di dalam penglihatannya dan memerintahkan dia untuk membuat tanda serupa dan memakainya sebagai perlindungan dalam segala pertempuran dengan musuh-musuhnya. Keesokkan paginya, Constantine bangun dan menceritakan mimpinya itu kepada kawan-kawannya. Kemudian, ia mengumpulkan tukang pahat dan menggambarkan tanda tersebut kepada mereka supaya mereka dapat membuatnya di atas emas dan batu-batu berharga.

    Pada tanggal 28 Oktober 312, Constantine memenangkan perang Jembatan Mulvian. Setelah itu, ia secara resmi menjadi Kristen dan memerintahkan agar symbol nama Juruselamatnya (tanda silang yang terdiri dari huruf Yahudi chi dan rho) menjadi lambang tentaranya. Sebuah pemahaman tentang pertobatan dan pengaruh kaisar Constantine atas gereja sangat penting bagi kita, agar kita memiliki pengertian yang lebih baik mengenai dunia saat ini. Pengaruh-pengaruh ini masih memiliki berbagai akibat yang cukup besar baik dalam agama, filsafat dan pemerintahan. [11]

    Meskipun banyak orang yang meragukan pertobatan yang dialami oelh Konstantin, akan tetapi tindakan yang dilakukannya dengan menjadikan Kristen sebagai agama negara telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kekristenan. Pengakuan tersebut membuat agama Kristen berdiri dengan kokoh di dalam negara. Sekalipun trauma penganiayaan yang telah terjadi selama berabad-abad masih dirasakan gereja, namun dengan situasi yang telah stabil tersebut membuat gereja merasakan kebebasan melaksanakan ritual agamawi dalam negara.

    Perkembangan kekristenan sangat pesat pada masa diakuinya gereja (Kristen) sebagai agama negara.

    Pengaruh tersebut tentunya dapat dikategorikan sebagai hal yang positif terhadap kekristenan. Namun, pengaruh positif selalu dibarengi dengan pengaruh negatif. Lambat laun pengakuan tersebut memberikan kesempatan kepada gereja (secara khusus GKR = Gereja Katolik Roma) untuk memupuk kekuasaan hingga menjadi kediktatoran terhadap negara.[12]

    Banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa keadaan pada masa itu adalah sejarah gelap yang dilakukan oleh gereja. Di kemudian hari Gereja Katolik Roma memegang peranan yang sangat besar terhadap sejarah kekristenan. Terutama pada saat Konstantine menetapkan kota Konstantinopel sebagai kota Kristen (pusat kekristenan).[13] Kota ini kemudian berkembang secara otoritas hingga abad pertengahan. Pada abad pertengahan, Gereja Katolik Roma memegang peranan penting terhadap berbagai keputusan yang dilakukan oleh gereja.

     

    Prof. Dr. P.D. Latuhamallo

    Masalah Umum

    Dalam Kata Sambutannya pada pembukaan Sidang Raya Dewan Gereja –gereja di Indonesia ke-5 tahun 1964 di Istora Senayan, Jakarta, Dr. J. Leimena mengungkapkan pandangannya, yakni, bahwa “apa yang gereja-gereja kehendaki adalah sebenarnya parallel dengan apa yang negara juga kehendaki.” Dan apa yang gereja-gereja kehendaki pada waktu itu adalah Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Negara Republik Indoneia juga sejak 1928 sebagai bangsa yang berjuang untuk kesatuan bangsa dan wilayah. Parallelisme tujuan Negara dan Gereja tersebut menarik perhatian banyak orang pada waktu itu, termasuk para pemimpin gereja-gereja, sehingga timbul pembicaraan yang agak ramai. Orang menanyakan, apakah ucapan Dr. Leimena tersebut bersifat sosial-politis belaka yang keluar dari mulut seorang negarawan? Ataukah suatu ucapan teologis-oikumenis yang dinyatakan oleh seorang teolog awami ? Apabila tujaun Gereja dan Negara adalah sama dan oleh karena itu irang sebutkan adanya parallelisme, maka sejumlah pertanyaan akan muncul. Apakah wujud Gereja dan apakah pula wujud negara? Apakah yang benar-benar dimaksudkan dengan kesamaan tujuan itu? Bagaimanakah relasi antara Gereja dan Negara?

    Apakah yang dapat dipelajari dari sejarah tentang persoalan mengenai relasi Gereja dan Negara, umpamanya di Barat? Bagaimanakah keadaan di Indonesia, baik dalam zaman kolonial, maupun dalam zaman Indonesia merdeka? Khususnya, bagaimanakah hendaknya kita memahami relasi Gereja dan Negara dalam jangkauan Pancasila dan UUD 1945 ?

    Jelaslah sudah, bahwa setelah mendengar sejumlah pertanyaan di atas, maka kini kita berhadapan dengan satu bab yang penting dalam Etika Politik, yakni relasi Gereja dan Negara. Persoalan tersebut dapat dibahas secara teoritis dan praktis. Teoritis, karena berdasarkan semua data pemberitaan Kitab Suci, dapat diadakan suatu refleksi sistematis dan selanjutnya ditarik beberapa kesimpulan. Dan dalam hubungan ini apa yang disebutkan Negara dalam konteks Kitab Suci, adalah lain dari pada keadaan negara dalam zaman modern sekarang. Apa yang disebutkan negara dalam konteks Kitab Suci, mempunyai bentuk yang sama saja dengan kerajaan yang mempunyai masyarakat feodal. Sedangkan pengelompokan rakyat dalam bentuk partai politik, sebagaimana terdapat dalam negara demokratis modern, tidak ada. Demikian juga halnya dengan tidak adanya konstitusi negara. Namun yang penting dan selalu ada dulu dan sekarang dalam bentuk negara apapun, adalah faktor-faktor kuasa, kebebasan, kemakmuran, kemauan dan tujuan negara.

    Contoh HKBP

    Ucapan Dr. Leimena yang disinggung di atas, mengantar gereja-gereja pada konkrit. Bagaimana sebenarnya gereja-gereja yang sedang beroikumene di Indonesia, merumuskan hubungan Gereja dan Negara dalam konteks Pancasila dan UUD 1945 ?

    Mengenai pertanyaan tersebut, dapat dikatakan, bahwa gereja-gereja di Indonesia belum tegas secara oikumenis menyatakan pendiriannya, artinya pendirian teologis tentang relasi Gereja dan Negara. Sebenarnya dalam kurun waktu apa yang disebut “Orde Lama”, yakni waktu sesudah Dekrit Presiden tgl. 5 Juli 1959 sampai kepada zaman “Orde Baru”, maka gereja-gereja mempunyai kesempatan unatuk merumuskan keyakinannya secara prinsipil. Dapat dicatat, bahwa tidak semua gereja di Indonesia telah mencantumkan suatu rumusan tentang relasi Gereja dan Negara dalam naskah-naskah kepercayaannya.

    Dewan Gereja-gereja di Indonesia dalam beberapa konperensi Gereja dan Masyarakat, dan juga dalam pesan-pesannya telah menyinggung permasalahan yang dimaksudkan di atas. Gereja yang jelas mencantumkan hubungan Gereja dan Negara dalam Konferensinya adalah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Pasal 12 Konfesi HKBP mengatakan:

    “Kita menyaksikan: Pemerintah yang berkuasa adalah dari ALLAH datangnya. Ialah Pemerintah yang melawan kejahatan, yang mempertahankan keadilan dan berusaha, agar orang percaya dapat hidup dengan sejahtera seperti tercantum pada Roma 13 dan I Timotius 2:2. Pada lain pihak kita harus ingat yang tercantum pada Kisah Rasul-Rasul Pasal 5:29 wajiblah orang menurut Allah lebih dari pada manusia. Dengan ajaran ini kita menyaksikan “ Gereja harus mendoakan Pemerintah agar berjalan di dalam keadilan. Sebaliknya Gereja pada saat-saat yang perlu harus memperdengarkan suaranya terhadap Pemerintah. Dengan ajaran ini kita tolak paham yang mengatakan : Negara adalah Negara keagamaan, sebab: Negara dan Gereja mempunyai bidang –bidang tersendiri (Matius 22:21). Jika perlu di hadapan hakim untuk menyaksikan kebenaran, orang Kristen boleh bersumpah, demikian pula waktu menerima jabatan atau pangkat.” (Pengakuan Percaya HKBP, Ketetapan Sinode Godang HKBP 28-30 Nopember 1951, Sipoholon).

    Dengan rumusan HKBP tentang relasi Gereja dan Negara, muncul 2 pertanyaan. Pertama, mengapakah sehingga HKBP pada waktu tertentu dalam sejarahnya, memutuskan untuk menyatakan konfesi Gereja? Kedua mengenai Pasal 12 dalam nya sikap tegas HKBP tentang bagaimana HKBP sebagai Gereja Kristus di dunia, menyatakan relasinya dengan Negara Pancasila. Makna apakah yang terkandung dalam model relasi Gereja dan Negara (1951) untuk keadaan sekarang?

    Mengenai pertanyaan pertama dapat dijawab sebagai berikut. Setiap gereja harus dapat merumuskan imannya. Apa yang menjadi pokok-pokok kepercayaan gereja perlu dirumuskan sehingga menjadi pegangan dan pedoman penghayatan bagi anggota-anggota gereja. Perumusan iman tersebut dapat diselenggarakan oleh satu gereja, seperti halnya dengan HKBP, atau oleh beberapa gereja dalam hubungan oikumenis.

    Mengenai konfesi HKBP (1951) dilaporkan, bahwa sebagai anggota Lutheran World Federation, maka HKBP harus memenuhi salah satu syarat, ialah konfesi tertulis dari pada gereja yang melamar untuk menjadi anggota. Mengenai pertanyaan kedua, dapat dicatat sebagai berikut. Pasal 12 Konfesi HKBP dengan jelas menggarisbawahi fungsi dari pada Negara sebagaimana ditinjau dari sudut iman Gereja. Hal ini mengenai kuasa (sumber kuasa) dan pemanfaatannya secara bertanggungjawab oleh Negara.

    Pada sebelah lain fungsi gereja terhadap Negara dititikberatkan pula. Jadi nampak adanya batas-batas dari pada Gereja pada satu pihak dan dari pada Negara pada lain pihak. Dan juga ditentang penyatuan Negara dengan Agama (Negara keagamaan). Jadi model tentang relasi Gereja dan Negara menurut Roma 13 dan I Timotius 2, dan dapat ditambahkan juga 1 Petrus 2 dan Titus 3, dimanfaatkan oleh HKBP untuk situasi Gereja dalam Negara Pancasila.

    Pasal 12 Konfesi HKBP menjelaskan juga tentang sikap kritis Gereja terhadap negara. Yakni, bahwa Negara wajib menciptakan keadilan, art, keadilan hukum, sosial-politik, ekonomi dsb.

    Pandangan yang positif tentang fungsi Negara, sebagaimana diyakini Gereja, dipertegas pula dengan menyatakan keyakinan Gereja, yakni, bahwa dalam segala keadaan termasuk relasi Gereja dan Negara, yang terpenting adalah: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kisah Para Rasul 5:29, terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia).

    Critical Principle ini cukup menegaskan kepercayaan dan pendirian Gereja HKBP tentang relasi Gereja dan Negara.

    Hubungan Agama Dan Negara: (Lukas 20: 20-26)

    Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala mengamat-amati Yesus.Mereka menyuruh kepada-Nya mata-mata yang berlaku seolah-olah orang jujur, supaya mereka dapat menjerat-Nya dengan suatu pertanyaan dan menyerahkan-Nya kepada wewenang dan kuasa wali negeri. Orang-orang itu mengajukan pertanyaan ini kepada-Nya : ” Guru, kami tahu, bahwa segala perkataan dan pengajaran-Mu benar dan Engkau tidak mncari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah. Apakah kami diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka yang licik itu, lalu berkata kepada mereka: ” Tunjukkanlah kepada-Ku suatu dinar; gambar dan tulisan siapakah  ada padanya?” Jawab mereka : ” Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka :

     ”Kalau begitu berikanlah  kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang  wajib kamu berikan kepada Allah!” Dan mereka tidak dapat  menjerat Dia dalam perkataan-Nya di depan orang banyak. Mereka heran akan jawab-Nya itu dan mereka diam.

    Topik ini bukan lagi hal baru, namun tetap hangat diperbincangkan.  Terlebih pada saat-saat Pemilu 2009, sekarang ini. Dengan sistim multi-partai dan banyaknya ikatan-ikatan primordial dan simbol-simbol keagamaan yang digunakan, mengharuskan umat Kristen untuk menyikapinya dengan bijak. Sikap konvensional yang selama ini dirumuskan di bidang politik adalah bahwa gereja memiliki tugas politik, tetapi tidak terlibat dalam politik praktis. Namun begitu, gereja dalam kenyataannya acap mudah terseret ke dalam permainan politik. Demikian juga sikap tentang hubungan antara agama (baca: gereja) dengan negara, masih terdapat ragam pemahaman, seperti: terpisah, bermusuhan, atau koordinasi. Maka ada baiknya masalah ini terus-menerus didalami dengan menafsir ulang Alkitab sesuai dengan konteks zaman ini. Selama ini, salah satu nas Alkitab yang sering digunakan dasar menanggapi masalah ini adalah ucapan Yesus dalam Lukas 20:25, di samping Roma 13; 1 Petrus 3; dan Wahyu 13. Dalam PA kali ini, kita akan berusaha untuk membahas masalah hubungan agama dengan negara berdasarkan Lukas 20: 20-26.

    “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Luk.20:25). Orang-orang Yahudi enggan membayar pajak kepada penguasa Romawi. Sebab itu merupakan tanda bangsa taklukan atau jajahan. Lebih daripada itu, masalah itu juga berhubungan dengan masalah iman. Dinar yang diminta Yesus itu adalah lambang kekuasaan Romawi. Pada sisi muka terlihat gambar Kaisar Tiberius, sedangkan pada sisi belakang tergambar ibunda kaisar yang duduk di atas takhta ilahi sebagai inkarnasi dari Damai Sorgawi. Yang sangat menyinggung iman orang-orang Yahudi ialah tulisan pinggir yang ada pada mata uang itu yang menyatakan bahwa Kaisar itu adalah Tuhan dan Imam Agung. Bunyi tulisan itu adalah Tiberius Caesar Divi Auguati Fillius Augustus, artinya: Tiberius Kaisar, Putera Agustus yang Ilahi. Tulisan dipinggir belakang, yang merupakan lanjutan gelar Kaisar, berbunyi: Pontifex Maximus, artinya: Imam Tertinggi.

    Pada abad pertengahan, terdapat dua pandangan. Pertama: pandangan tentang dua pedang(two swords), yaitu adanya dua kekuasaan yang masing-masing mandiri (Paus Gelcius I). Menurutnya, gereja dan negara memiliki tingkat kekuasaan yang sama tetapi memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya, gereja lebih unggul dalam kehormatan, sedangkan negara lebih unggul dalam kekuatan fisik. Kedua: padangan tentang hukum kodrati (natural law). Menurut pandangan ini, semua manusia baik penguasa maupun rakyat sama-sama diperintah dan diawasi oleh satu kerangka, yaitu hukum kodrati yang diciptakan dan diatur oleh Allah. Tidak ada kekuasaan yang mutlak karena semua kekuasaan dibatasi untuk hanya mencari kebaikan menurut hukum kodrati (Thomas Aquinas). Di sini, gereja dan negara, Paus dan Kaisar, sama-sama tunduk kepada hukum kodrati yang bersumber dari kuasa Allah. Dalam pandangan ini, terdapat adanya paradigma pemisahan sekaligus interaksi/kordinasi antara kekuasaan gereja dan negara.

    Pada masa pencerahan/reformasi (abad xv-xviii), kembali lagi pada pemisahan antara gereja dan negara. Gereja Katolik memahami peran gereja dalam dunia berhubungan dengan hal-hal rohani dan moral, sedangkan tugas negara mengurus kehidupan bernegara dan politik. Luther dan Calvin menghilangkan kekuasaan gereja di dalam negara, walaupun masih tetap mempertahakan hubungan asimilasi. Dengan dmeikian, negara dan gereja mempunyai tugasnya masing-masing. Walau begitu, bagi Luther, gereja membutuhkan perlindungan negara agar tetap bisa hidup. Calvin, meski lebih berpendirian teokratis, tetapi juga masih membela perlunya ketaatan kepada pemerintah, tetapi gereja harus menolak perintah-perintah yang bertentangan dengan Alkitab. Intinya, Luther dan Calvin, membela bahwa gereja dan negara harus taat pada friman Allah.

    Pada abad modern (abad xix-xxi), faham demokrasi dan kebebasan menguat. Maka konsep-konsep PB tentang hubungan gereja dan Negara tidak bisa diterapkan begitu saja, melainkan harus ditafsir ulang, karena konteks dan situasi yang sangat berbeda.  Paham mengenai kehadiran gereja dalam dunia, termasuk di setiap Negara memperlihatkan adanya dua pandangan utama, yaitu: paradigma transformasi, dianut oleh Katolik, Lutheran, Calvinis dan metodis. Sedangkana pandangan kedua, yaitu: pemisahan ketat, dianut oleh Mennonite, Baptis dan Pentakosta. Lalu, posisi yang diambil negara ketika berhadapan dengan gereja, ditentukan oleh kepentingan politiknya, juga ditentukan oleh peran gereja dan kelompok agama lainnya dalam masyarakat.

    1.

     

    Pada masa pencerahan/reformasi (abad xv-xviii), kembali lagi pada pemisahan antara gereja dan negara. Gereja Katolik memahami peran gereja dalam dunia berhubungan dengan hal-hal rohani dan moral, sedangkan tugas negara mengurus kehidupan bernegara dan politik. Luther dan Calvin menghilangkan kekuasaan gereja di dalam negara, walaupun masih tetap mempertahakan hubungan asimilasi. Dengan dmeikian, negara dan gereja mempunyai tugasnya masing-masing. Walau begitu, bagi Luther, gereja membutuhkan perlindungan negara agar tetap bisa hidup. Calvin, meski lebih berpendirian teokratis, tetapi juga masih membela perlunya ketaatan kepada pemerintah, tetapi gereja harus menolak perintah-perintah yang bertentangan dengan Alkitab. Intinya, Luther dan Calvin, membela bahwa gereja dan negara harus taat pada friman Allah.

    Pada abad modern (abad xix-xxi), faham demokrasi dan kebebasan menguat. Maka konsep-konsep PB tentang hubungan gereja dan Negara tidak bisa diterapkan begitu saja, melainkan harus ditafsir ulang, karena konteks dan situasi yang sangat berbeda.  Paham mengenai kehadiran gereja dalam dunia, termasuk di setiap Negara memperlihatkan adanya dua pandangan utama, yaitu: paradigma transformasi, dianut oleh Katolik, Lutheran, Calvinis dan metodis. Sedangkana pandangan kedua, yaitu: pemisahan ketat, dianut oleh Mennonite, Baptis dan Pentakosta. Lalu, posisi yang diambil negara ketika berhadapan dengan gereja, ditentukan oleh kepentingan politiknya, juga ditentukan oleh peran gereja dan kelompok agama lainnya dalam masyarakat.

    Dalam bagian ini kita akan membahas tentang hubungan gereja dengan Negara . Gereja yang hadir di tengah dunia hidup bukanlah untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk lingkungan dimana ia ada..

    1. Empat Model Hubungan Gereja dan Negara
    Di bawah ini akan diuraikan 4 model hubungan gereja dengan Negara  antara lain:

    1. Terpisah dan bermusuhan artinya gereja diasingkan dengan Negara, gereja tidak diakui keberadaannya oleh Negara contoh dinegera-negara Eropa Timur dan Selatan
    2. Pemisahan gereja dengan Negara artinya Negara tidak memihak, Negara bersifat netral. Dalam hubungan seperti ini gereja tidak mendapat bantuan dari Negara. Kendatipun demikian gereja dalam hubungan seperti ini mendapat kebebasan penuh untuk mengembangkan diri, contoh di Negara Prancis, AS dll
    3. Mapan artinya dalam hubungan yang mapan gereja mendapat dukungan yang penuh dari Negara contoh di Negara-negara Eropa Utara (Inggris, Swedia, Norwegia dll)
    4. Semi terpisah artinya Gereja menentukan  dan mengurus dirinya sendiri secara terbatas. Para pepimpin gereja berhak mendapat layanan public contoh di Jerman.


    . Gereja dalam Konteks Indonesia

    Dalam konteks Indonesia, kedudukan  Gereja berada pada bekerjasama, dimana Negara melindungi dan memberikan hak pada masyrakatnya untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinannya. Hubungan gereja dan Negara sifatnya koordinatif(setara dan saling bekerja sama) bukanlah subordinatif (yang satu menguasai yang lain). Demikian pula agama (dalam hal ini gereja) ikut membina warganya agar dapat berpartisipasi dengan baik dalam mayarakat dengan penuh rasa tanggung jawab menjaga stabilitas kebangsaan ini.

    Hubungan Gereja dan Negara dalam Teologi Calvin

    Hubungan gereja dan negara dalam teologi Calvin sangat erat dan dapat disimpulkan bahwa kedua lembaga ini saling berdampingan, sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatannya.[44]Namun bukan dalam arti Negara boleh saja mengambil alih semua apa yang menjadi bagian gereja, dan juga sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh karena Calvin yang mencita-citakan suatu pemerintahan yang teokrasi.[45] Sehingga dalam mewujud nyatakan cita-cita teokrasi tidak cukup kalau hanya melalui pemberitaan firman yang dilakukan oleh Gereja, tetapi seluruh kehidupan, baik hidup perorangan, maupun hidup masyarakat, harus diatur sesuai dengan kehendak Allah. Dan dalam hal inilah pun pemerintah mempunyai tugas untuk mendukung gereja. Ini disebabkan karena Johannes Calvin memiliki pandangan positif kepada Negara. Ia menolak gereja sebagai subordinasi (di bawah) Negara, atau dengan subordinasi gereja, tetapiiuxtaposisi (kesetaraan yang berdampingan) dan kooperatif (mitra kerjasama).

    Menurut Christiaan de Jonge dalam bukunya Apa itu Calvinisme? Menjelaskan bahwa pemahaman Calvin mengenai negara dan hubungan antara gereja dan pemerintah pertama-tama menjadi tampak dari penolakkannya terhadap penganut reformasi radikal yang menganggap pemerintahan itu jahat.[40]

    Menurut Calvin pemerintah dunia tidak berhak dalam urusan perkara-perkara yang semata-mata mengenai hidup Gereja sendiri – berdasarkan pada uraian latar-belakang di atas.

    Hubungan Gereja dalam politik negara

    Sejarah Gereja membuktikan bahwa ketika gereja menjadi “gereja-negara” dan negara menjadi “negara-gereja”, keduanya berakhir pada jalan buntu. Tatkala negara mendominasi (Gereja), gereja direduksi menjadi hanya lembaga sekular manusiawi. Padahal Gereja adalah persekutuan rohani yang dibentuk Allah sendiri. Sebaliknya, ketika Gereja mendominasi (negara), negara disakralkan, dan kebijakan negara (politik) disejajarkan dengan isi wahyu. Tanpa pemilahan yang jelas, hubungan keduanya justru menjadi carut-marut. Keduanya saling eksploitasi dengan Aneka trik.

    Pemilahan antara kedua saudara kandung tersebut harus diperjelas teristimewa dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Umat Allah (Gereja) semestinya membedakan peran mereka dalam politik di satu pihak sebagai pribadi atau kolektif selaku warganegara, dan di lain pihak berperan dalam tugas kemanusiaan atas nama Gereja. Gereja sebagai institusi harus menghindarkan diri dari keterlibatan politik (praktis) berdasarkan agama yang dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarakat majemuk.

    Pemilahan antara Gereja dan politik tidak berarti bahwa umat kristiani tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik. (Perlu dipilah jelas makna Gereja sebagai institusi dan sebagai umat Allah). Justru sebaliknya, umat kristiani sebagai Gereja yang terpanggil untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, dan kedamaian harus terlibat proaktif dalam upaya pemenuhan kesejahteraan umum yang merupakan tujuan dari politik. Setiap umat kristiani bersama seluruh komponen bangsa harus mengupayakan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Berbagai kerusuhan massa seperti pembunuhan massal, pembakaran/penutupan gereja, ancaman bom, dan aneka bentuk diskriminasi menunjukkan realita negara tidak mampu memberikan perlindungan kepada rakyatnya. Ini berkaitan dengan kebijakan politik para negarawan. Keterlibatan umat kristiani dalam proses politik diharapkan dapat ikut mempengaruhi pengambilan kebijakan politik yang lebih adil. Dengan kata lain, politik merupakan salah satu jalan dan arena di mana nasib dan masa depan seluruh rakyat ditentukan.

    Melihat kondisi Indonesia, keterlibatan umat kristiani dalam proses politik bukan lagi suatu pilihan fakultatif, melainkan telah menjadi kebutuhan yang mendesak.

    Pertanyaan Teknis menyangkut Gereja dengan Politik     

    Pertanyaan teknis tentang, bolehkah orang Kristen berpolitik, harus dijawab dengan tegas, boleh! Bahkan bolehkah gereja berpolitik, jawabnya juga, ya! Tentu semuanya ada dalam payung refleksi iman di atas. Gereja sebagai institusi keagamaan jelas tidak berpolitik dalam pengertian menduduki kekuasaan atau berpihak pada salah satu kelompok politik (partisan). Kita sebagai gereja reformasi mewarisi tradisi mengenai pemisahan kekuasaan antara agama dan negara. Tetapi gereja menjalankan tanggungjawab moril atas politik masyarakat. Di lain pihak anggota gereja sebagai warga negara selain mempunyai tanggungjawab moril yang luas, ia juga mempunyai hak dan tanggungjawab untuk berperan di dalam politik, termasuk politik kekuasaan. Artinya sebagai individu dan warga negara, seorang anggota gereja dapat menjalankan fungsi individualnya. Tetapi tentu seluruh refleksi di atas tetap relevan, keberadaan seorang anggota gereja di dalam pemerintahan bukan untuk mengambil keuntungan bagi kehidupan gereja itu sendiri. Karena sebagai anggota gereja maka warga negara itupun diharapkan dapat menjadi alat kesaksian bagi politik masyarakat yang luas dan adil.

    Politik gereja demi keuntungan diri sendiri mengembalikan kita pada percakapan di atas mengenai agama/gereja politi. Kelihatannya di Indonesia situasi ini masih terus kuat. Sebelum gonjang ganjil pemilu 1999 wacananya adalah “gereja tidak berpolitik pratis”. Statement ini menjadi semacam excuse pada saat gereja enggan berbicara apapun mengenai politik dan kondisi masyarakat umum. Sekarang wacana yang dikedepankan adalah “kita dukung orang/partai Kristen”. Hal ini sebenarnya juga adalah wacana lama yang pernah sangat kuat di tengah masyarakat Kristen tertentu di Indonesia, yang mendambakan sosok individu Kristen di dalam kabinet atau jajaran tentara dan pegawai negeri. Pada kenyataannya harapan ideal ini selalu gagal, karena pertama, ada kelemahan sistem sosial di mana dominasi kelompok mayoritas amat kuat; kedua, politik kekuasaan dan kepentingan menghadirkan ketidaktulusan gereja dan orang kristen. Hal yang perlu kita bangun berdasarkan refleksi teologi politik di Indonesia saat ini adalah :

    1. Gereja dan seluruh anggotanya harus membangun kepekaan sosial yang tingggi. Gereja yang berpolitik adalah gereja yang secara sungguh-sungguh mengakar dalam penderitaan masyarakat.
    2.  Situasi yang selalu dibangun oleh Yesus, karena ia sungguh-sungguh berakar pada konteksnya, yaitu di tengah penderitaan, dosa dan ketersisihan manusia(bdk.kiss pembaptisan Yesus: Mat 3; 13-17), Konteks kita di Indonesia tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang digambarkan oleh Alkitab. Hal yang paling terasa adalah kemiskinan dan korupsi. Kedua hal ini sepertinya telah menjadi udara yang kita hirup setiap waktu. Penting bagi kita bagaimana membangun sikap iman di tengah kondisi seperti ini.

    2. Gereja sebagai institusi keagamaan sudah seharusnya menjaga jarak dengan institusi politik kekuasaan, dalam hal ini pemerintah. Jarak inilah yang akan mendukung fungsi krisis gereja sebagai agama maupun civil society. Dengan demikian juga kita menghindar dari sikap yang menghalalkan pemerintah (godaan politik ontokrasi).

    Ada banyak contoh mengenai sikap politik gereja (formal maupun tidak) yang menunjukkan bahwa gereja mengejar kekuasaan atau kepentingan dirinya. Sebagai contoh seperti yang ditulis oleh Singgih: langsung atau tidak gereja menekankan pentingnya unsur Kristen masuk dalam struktur pemerintahan; mengambil sikap sebagai ‘anak manis’ dan menyandarkan diri pada perlindungan penguasa; memperjuangkan kepentingan sendiri dengan membangun jembatan dengan pemerintah/ penguasa dan golongan elit tertentu (Singgih 2000 : 26-35). Jelas sikap seperti ini tidak hanya dilakukan pada saat momentum pemilu, tetapi hampir di seluruh perjalanan hidup politik gereja di Indonesia (lihat Sirait 2001 : 181 dst). Kita dapat mengerti bahwa keadaan seperti ini didorong oleh situasi dan kondisi bernegara – berbangsa – beragama di Indonesia yang memang tidak ideal. Diskriminasi dan ketidakadilan terjadi di mana-mana di berbagai wilayah masyarakat termasuk wilayah hubungan agama-agama, yang menghasilkan sikap iman dan politik gereja yang tidak ideal pula (lih. Hadiwitanto 2002).

    Karena itu sebagai gereja kita perlu mengubah konsep berpolitik ke arah yang lebih benar dan luas. Bukan gereja politik untuk mengejar kekuasaan dan kepentingan, melainkan politik gereja yang menghasilkan teologi politik yang ideal, yaitu refleksi-refleksi dan tindakan iman di dalam serta demi kepentingan kehidupan masyarakat banyak.

     

     

     

     

     

    DAFTAR ISI

    Motto ………………………………………………………………………………………  ix

    Kata Pengantar ……………………………………………………………………………  i

    Daftar Isi …………………………………………………………………………………. ii

    BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………….. 1.

    Latar  Belakang Masalah …………………………………………………………………  1.

    Rumusan Masalah ………………………………………………………………………..  3.

    Maksud dan Tujuan Penulisan …………………………………………………………… 4.

    Metode Penulisan …………………………………………………………………………. 5.

    BAB II. PEMBAHASAN …………………………………………………………………. 6.

    Hubungan antara Gereja dan Negara dalam Sejarah …………………………………….. 6.

    Gereja Terpisah dari Negara ………………………………………………………………. 6.

    Gereja Menguasai Negara …………………………………………………………………. 8.

    Prof.Dr.P.D. Latuhamallo ………………………………………………………………………………….      10.

    Hubungan Agama dan Negara (Lukas 20:20-26) ……………………………………. 13.

    Gereja dalam konteks Indonesia ………………………………………………………. 16.

    Hubungan Gereja dan Negara dalam Teologi Calvin …………………………………….  16.

    Hubungan Gereja dalam Poliik Negara …………………………………………………… 17.

    Pertanyaan Teknis menyangkut Gereja dengan Politik…………………………………… 18.

    PENUTUP

    Saran dan Kesimpulan ……………………………………………………………………… 20.

    Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………. 21.

    ii.

MOTTO:

  • “Hidup tanpa iman, adalah hampa. Sebab, anegerah dan berkat dari Tuhan selalu mengalir buat orang-orang yang mempunyai iman yang teguh serta kasih yang tulus yang tercermin dari perbuatan kita” Baca selengkapnya →

“Pembudidayaan tanaman Padi Varietas Unggulan”

Published Oktober 25, 2012 by afrizaldelfansonnbbn

CARA BUDI DAYA PADI YANG BENAR

page 1Gambar


CARA BUDI DAYA PADI UNGGULAN .

 

 


PENDAHULUAN
 
Dalam rangka upaya peningkatan produksi tanaman padi sawah melalui cara dan dikerjakan dengan cara sebaik – baiknya dan agar supaya dapat meningkatkan mutu tanaman padi sawah
dan agar dapat tubuh dan perkembangan tanaman yang baik dan memperoleh hasil yang tinggi
kita harus memperhatikan hal – hal berikut ini .

1.MEMILIH VARITAS atau PADI UNGGUL
Diusahakan kita memilih bibit padi yang bersertifikat atau sudah resmi dari pemerintah
dan setelah padi di dapat lebih baik direndam selama satu sampai lima ban air rendaman diganti sati hari sekali .
ini contoh padi yang bersertifikat : padi CIHERANG dan padi CIBOGA .

2. PERSEMAIAN
Pembuatan persemaian harus di pilih lokasi yang aman dari serangan tikus dan mudah kita kontrol setiap hari . luas persemaian 4% dari luas areal yang akan ditanami . tanaman padi yang akan di buat persemaian kira-kira umur 23 sampai 26 hari dan sudah bisa ditanam dilahan sawah .

3. PENGOLAHAN TANAH
Pengolahan tanah harus sempurna, sebelum di bajak tirlebih dahulu di genangi air sesudah di genangi air lalu di bajakdenganmenggunakan mesin pembajak sawah atau bisa juga dengan kerbau .

4. TANAMAN PADI
Jarak tanaman diatur garis lurus dengan jarak 20 kali 20 . tiap lubang ditanami 2 sampai 3 saja .

5. PEMUPUKAN 
di bawah ini Macam – macam pupuk yang digunakan dalam budi daya padi.

A.PUPUK ORGANIK
pupuk ini digunakan untuk memperbaiki fisik kesuburan tanah.

B.OREA / pupuk N (niteogen)
Pupuk ini berfungsi untuk merangsang pertumbuan tanaman secara keseluruan dan kususnya batang , cabang , dan daun serta membantu menghijaukan daun dengan sempurna dan juga membantu fotosintesis.

C.PUPUK SP36
Yang berfungsi untuk pertumbuan akar kususnya tanaman muda dan dapat membanta
 asimilasi dan pernafasan serta mempercepat pembungaan dan memasakan buah .

D.PUPUK ORGANIK CAIR atau POC
Gunanya untuk menambah unsur – unsur mikro dan sesuai dengan tanaman padi .

E.PUPUK KCL atau PUPUK KALIUM
Berfungsi untuk memperkuat tanaman agar daun,bunga,dan buah tidak mudah gugur, juga menjadikan tanaman lebih
 tahan terhadap kekeringan dan pemasakan buah .

6. JUMLAH PUPUK DAN WAKTUNYA
Cara – cara mengatur komposisi yang benar.

A.Pupuk DASAR OREA 100kg/hektar SP36 100kg/hektar , waktunya diberikan 1 hari sebelum tanam .

B.Pemupukan ke 2 OREA 100kg/hektar , waktunya 15 hari sesudah tanam , dengan cara di semprotkan .

C.Pemupuken ke 3 OREA 100kg/hektar , waktunya padi berusia 45 tahun setelsh tanam ,dan cara di semprotkan ke tanaman .

7.PEMBERIAN AIR
Pemberian air tanaman harus umur 0 sampai 10 hari dan minimal padi setinggi 5cm (genangan air), umur 10 sampai 35 hari setinggi 10cm ,umur 40 sampai 100 hari setinggi 10cm . tanaman padi pada umur 110 hari air dibuang atau di keringkan .

8. PENGENDALIAN HAMA dan PENYAKIT
Hama yang perlu di waspadai adalah
tikus,wereng,sundep,dan harus di adakan pengendalian atau pemberantasan dan apa bila ada serangan sebaiknya di semprot dengan insektisida dan kalau tidak ada tidak perlu .


9.PANEN
Panen di lakukan pada saat tanaman padi sudah umur 130 hari atau sudah 90% menguning,
cara memanen dengan alat sabit kemudian alas untuk memotong batang padi dan kemudian di tumpuk setelah di tumpuk padi di rontokan dengan alat perontok yang namanya doser alau sudah di rontokan di bawapulang dan di jemur di bawah terik matahari kalau sudah menguning dikemas dalam karung dan terus dijual di pengepul .

PENUTUP
Dengan teknologi seperti terturai diatas produktivitas usaha tani padi pastikan berhasil
 dengan baik dan sukses dalam rangka peningkatan produk padi indonesia danpemerintah tidak lagi eksport beras dari negara tetanga.

Posted by pertanian at 5:51 AM 

 

 

BUDIDAYA PADI SISTEM JAJAR LEGOWO

Submitted by ucu.bp3k-cibitu… on Fri, 09/12/2011 – 12:15 

 

 

BUDIDAYA PADI SISTEM JAJAR LEGOWO

 

 

 

Legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata “Lego” yang berarti luas dan “dowo” yang berarti panjang. Menurut beberapa informasi yang saya peroleh cara tanam ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Legowo kepala dinas pertanian kabupaten Banjar Negara.

Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Selain itu sistem tanam tersebut juga memanpulasi lokasi tanaman sehingga seolah-olah tanaman padi dibuat menjadi taping (tanaman pinggir) lebih banyak. Seperti kita ketahui tanaman padi yang berada dipinggir akan menghasilkan produksi lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik hal ini disebabkan karena tanaman tepi akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak.

Ada beberapa tipe sistem tanam jajar legowo:

  1. Jajar legowo 2:1. Setiap dua baris diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Namun jarak tanam dalam barisan yang memanjang dipersempit menjadi setengah jarak tanam dalam barisan.
  2. Jajar legowo 3:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir dirapatkan dua kali dengan jarak tanam yang ditengah.
  3. Jajar legowo 4:1. Setiap tiga baris tanaman padi diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak dalam barisan. Demikian seterusnya. Jarak tanam yang dipinggir setengah dari jarak tanam yang ditengah.

Cara tanam padi jajar legowo merupakan salah satu teknik produksi yang memungkinkan tanaman padi dapat menghasilkan produksi yang cukup tinggi serta memberikan kemudahan dalam aplikasi pupuk dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Padi yang merupakan tanaman pangan utama penduduk, sebagian besar diproduksi di lahan sawah. Belum optimalnya produktivitas padi lahan sawah antara lain karena serangan hama, penyakit dan gulma. Melalui perbaikan cara tanam padi dengan sitem jajar legowo diharapkan selain dapat meningkatkan produksi, pengendalian organisme pengganggu dan pemupukan mudah dilakukan.

Jajar Legowo 2 : 1 (40 cm x (20 cm x 10 – 15 cm)) adalah salah satu cara tanam pindah sawah yang memberikan ruang (barisan yang tidak ditanami) pada setiap dua barisan tanam, tetapi jarak tanam dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm tergantung dari kesuburan tanahnya.

 

 

 

 

 

Pada tanah yang kurang subur kebiasaan petani tanam cara tegel 20 cm x 20 cm, menggunakan jarak tanam dalam barisan 10 cm. Pada tanah dengan kesuburan sedang kebiasaan petani tanam cara tegel 22cm x 22 cm, jarak tanam dalam barisan 12, 5 cm. Pada tanah yang subur 25 cm x 25 cm, jarak tanam dalam barisan 15 cm.

 

 

 

Tujuan dari cara tanam jajar legowo 2 : 1 adalah :

–        Memamfaatkan radiasi surya bagi tanaman pinggir.

–        Tanaman relatif aman dari serangan tikus, karena lahan lebih terbuka.

–        Menekan serangan penyakit karena rendahnya kelembaban dibandingkan dengan cara tanam biasa.

–        Populasi tanaman bertambah 30 %.

–        Pemupukan lebih efisien.

–        Pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah dilakukan daripada cara tanam biasa.

 

 

 

Teknik Penerapan

a.       Pembuatan baris tanam

Lahan sawah yang sudah siap ditanami, 1 – 2 hari sebelum tanam air dibuang sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Tujuan air dihilangkan adalah untuk dapat membentuk garis-garis tanam secara jelas. Dengan menggunakan alat pembuat garis jajar legowo 2 : 1 (Atajale 2 : 1), dibuat garis tanam 40 cm x ( 20 cm x 10 cm) dengan cara menarik atajale pada lahan yang akan ditanami. Arah baris tanam sebaiknya sesuai dengan arah aliran air pegairan.

 

 

b.      Tanam

Bibit padi umur kurang dari 21 hari sebanyak 1-2 bibit ditanam pada perpotongan garis-garis yang terbentuk, dengan cara maju atau mundur sesuai kebiasaan regu tanam.

 

Teknik Pemeliharaan Tanaman

a.       Pemupukan

Pemupukan dilakukan secara alur pada tempat yang berjarak 20 cm dan posisi yang memupuk pada tempat yang berjarak 40 cm. Dengan cara ini hanya 40 % dari lahan yang diberi pupuk dan pupuk terkosentrasi sepanjang tempat yang berjarak 20 cm, serta pupuk lebih dekat denga perakaran sehingga dapat dimamfaatkan oleh tanaman secara maksimal.

 

b.      Penyiangan

Pada cara tanam ini penyiangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan landak/osrok cukup satu arah yaitu searah dalam barisan dan tidak perlu dipotong sepertimpada cara tanam bujur sangkar (2 arah). Jarak tanam dalam barisan 10 cm tidak perlu dilakukan penyiangan karena gulma akan kalah berkompetisi dengan pertumbuhaan tanaman padi. Dengan cara tanam ini, biaya penyiangan dapat di tekan sampai 50 %.

 

 

 

 

c. Pengendalian Hama dan Penyaki

Adanya lorong-lorong yang berjarak 40 cm sinar matahari dan sirkulasi udara dapat berjalan optimal dan kelembaban dapat ditekan sehingga perkembangan hama/penyakit dapat diminimalisir. Disamping itu, kegiatan pemamtauan dan pelaksanaan pengendalian penyakit dapat lebih mudah dilaksanakan.

 

Untuk menghitung peningkatan populasi dengan sitem tanam jajar legowo bisa menggunakan rumus :       100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo).

contoh:

  • untuk legowo 2:1 peningkatan populasinya adalah :  100%  X  1 : (1 + 2) = 30%
  • untuk legowo 3:1 peningkatan populasinya adalah :  100%  X  1 : (1 + 3) = 25%
  • Untuk legowo 4:1 peningkatan popuasinya adalah :  100%  X  1 :  (1 + 4) = 20%
  • Untuk legowo 5:1 peningkatan popuasinya adalah :  100%  X  1 :  (1 + 5) = 16,6%

 Adapun manfaat sistem tanam jajar legowo adalah:

  1. Menambah jumlah tanaman padi seperti perhitungan diatas
  2. Otomatis juga akan meningkatkan produksi tanaman padi
  3. Memperbaiki kualitas gabah dengan semakin banyaknya tanaman pinggir
  4. Mengurangi serangan penyakit
  5. Mengurangi tingkat serangan hama
  6. Mempermudah dalam perawatan baik itu pemupukan maupun penyemprotan pestisida
  7. Menghemat pupuk karena yang dipupuk hanya bagian dalam baris tanaman

Selain manfaat sistem tanam jajar legowo juga punya kelemahan antara lain:

  1. Membutuhkan tenaga tanam yang lebih banyak dan waktu tanam yang lebih lama pula
  2. Membutuhkan benih yang lebih banyak dengan semakin banyaknya populasi.
  3. Biasanya pada legowonya akan lebih banyak ditumbuhi rumput

 

 

Published Oktober 25, 2012 by afrizaldelfansonnbbn

Perjuangan sengit dibalik kelabu

 

Separuh hidupku terbuai dalam pahitnya misteri

Yang menggebu dan menyelubungi jiwa ragaku

Kini ku tak dapat menentang takdir yang menuntunku

Hanya bisa tertatih dan bersabar dalam kegelapan hidup.

 

Ku ingin berkata kepada ombak laut yang bergelombang

“Bawalah daku pergi jauh menyusuri pulau di seberang laut”

Ku tak tahan menjalani perjuangan sengit ini

Bagaikan peristiwa di balik kelabu

 

Aku bukanlah pujangga yang selalu berkhayal dalam impian belaka

Karena ku tahu jalan kebahagiaan masih belum terbuka untukku

Setiap waktu ku berdoa dan memohon pertolongan Tuhan

Berharap semuanya akan berakhir

 

Ku tak ingin rasa letih dan berbaur kepedihan  ini  berlanjut

Dan tak ingin juga orang lain mengalaminya

Biarlah ini menjadi yang pertama dan yang terakhir

Dalam liku-liku kehidupanku yang penuh dengan rintangan.

 

Karya: Afrizal Nababan.

 

 

Pidato dengan tema : “Kekerasan Dalam Rumah Tangga”

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang mana kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan, sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan seha wal’afiat, serta kita juga masih diberikan rahmat dan karunia yang melimpah.

Yang saya hormati, para Dewan juri sekalian, dan yang saya hormati juga Bapak/Ibu yang telah hadir di tempat ini, serta yang saya sayangi dan yang saya muliakan teman-teman sekalian yang telah berkumpul di tempat ini.

Pada kesempatan pagi hari ini, perkenankanlah kiranya saya untuk menyampaikan pidato yang bertemakan tentang “Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Baiklah, terlebih dahulu mendefinisikan Apa yang dimaksud dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga secara harafiah. Kekerasan Dalam Rumah Tanggga adalah suatu tindak kekerasan yang dilakukan di dalam kehidupan rumah tangga, baik oleh suami maupun oleh isteri. Namun kalau menurut penalaran saya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga itu dapat juga diartikan sebagai Ketidakseimbangan antara harapan dengan kenyataan di dalam kehidupan rumah tangga. Ketidakseimbangan tersebut dapat berupa perlakuan yang tidak adil oleh Suami terhadap isteri maupun Isteri terhadap Suami.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga sudah menjadi hal yang biasa untuk dibicarakan, sebab kebanyakan Orang-orang yang telah berumah tangga hampir sudah sering melakukan tindak kekerasan yang dapat merugikan kedua belah pihak, dan juga akan menimbulkan percekcokan di antara kedua belah pihak. Banyak sekali contoh-contoh dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini, seperti misalnya Seorang suami memaksa sang Isteri untuk bekerja mencari uang, sedangkan sang Suami malah keasyikkan tidur ataupun bersantai-santai di rumah. Lalu ada lagi, misalnya sang Suami menganiaya sang Isteri dengan perlakuan yang kasar dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepada sang Isteri. Tak jarang juga kita lihat malah sebaliknya, seorang isteri melakukan suatu tindak Kekerasan dalam rumah tangga, misalnya disaat keadaan ekonomi sang suami lagi meningkat ataupun Sang Suami mendapat pekerjaan yang mapan, sang isteri dengan setianya mendampingi sang Suami dan melayani suami dengan memenuhi permintaan sang suami.

Akan tetapi, ketika suami dalam keadaan terpuruk atau kondisi ekonomi suami bangkrut, atau juga misalnya sang suami terkena PHK oleh Perusahaan tempat sang suami bekerja, sehingga sang suami kehilangan pekerjaan dan tidak bisa lagi memenuhi keinginan sang isteri untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, sang isteri malah membentak-bentak suami dan memaksa suami untuk mencari pekerjaan luar yang gajinya tidak seberapa, dan pekerjaan nya juga berat, misalnya menjadi kuli bangunan.Sementara, sang suami masih dalam kondisi stress maupun depresi, karena telah kehilangan pekerjaanya, dan jatuh sakit gara-gara terlalu banyak pikiran. Si isteri kan seharusnya menghibur sang Suami dan memotivasi suami agar dapat bangkit dari keterpurukan yang mereka alami, namun malah sang isteri mematahkan semangat sang suami dan memaksa sang suami untuk mencari uang dengan berbagai cara, dan kadang kala sang isteri menyuruh suami untuk mencari pekerjaan yang tidak halal seperti Merampok Bank ataupun mengedarkan narkoba, demi mendapatkan uang yang banyak. Tentunya dengan keadaan seperti ini, malah akan menambah permasalahan di dalam kehidupan rumah tangga mereka.Faktanya, ada juga seorang isteri yang tega meninggalkan sang suami, karena sang suami tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan sang isteri dengan meminta cerai kepada suami, dan mencari laki-laki lain yang mempunyai pekerjaan yang lebih mapan dan lebih kaya raya. Hal-hal yang seperti ini dapat menimbulkan berbagai dampak yang merugikan. Apa saja dampak kekerasan yang dialami sang isteri ketika mendapatkan perlakuan kasar dari suami, atau sang suami diperlakukan kasar oleh sang isteri?. Dampak dari kekerasan terhadap kedua belah pihak adalah seperti mengalami sakit fisik, tekanan mental, menurunnya rasa percaya diri dan harga diri, mengalami rasa tidak berdaya, mengalami stress pasca trauma, dan bahkan dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya dari keterpurukan yang dialami. Dampak dari kekerasan dalam rumah tangga ini juga dapat berpengaruh bagi anak, kemungkinan kehidupan sang anak akan dibimbing dengan kekerasan, peluang terjadinya perilaku yang kejam pada anak-anak akan lebih tinggi, anak juga akan dapat mengalami depresi. Dan anak juga dapat berpotensi untuk melakukan kekerasan pada pasangannya nantinya apabila telah menikah  karena anak mengimitasi perilaku dan cara memperlakukan orang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Bapak/Ibu sekalian perlu kita ketahui bahwa terjadinya kekerasan dalam rumah tangga ini, akan dapat menjadi budaya dan tradisi yang mencolok di dalam kehidupan rumah tangga, serta akan diwariskan secara turun temurun apabila, tindakan kekerasan dalam rumah tangga ini tidak segera diakhiri.

KDRT tidak akan terjadi jika tidak ada penyebabnya. Banyak factor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Beberapa faktor tersebut misalnya: Adanya perbedaan antara posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tidak sama, sehingga akan menimbulkan terjadinya sikap saling merendahkan dan tidak menghargai posisi satu sama lain, Adanya persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga harus ditutupi karena merupakan masalah keluarga dan bukan masalah social, sehingga permasalahan dalam rumah tangga tidak akan bisa diketahui dan dibantu oleh masyarakat setempat.

Untuk menurunkan kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga maka masyarakat perlu digalakkan pendidikan mengenai HAM dan pemberdayaan perempuan; menyebarkan informasi dan mempromosikan prinsip hidup sehat, anti kekerasan terhadap perempuan dan anak serta menolak kekerasan sebagai cara untuk memecahkan masalah; mengadakan penyuluhan untuk mencegah kekerasan; mempromosikan kesetaraan jender; mempromosikan sikap tidak menyalahkan korban melalui media. Sedangkan untuk pelaku dan korban kekerasan sendiri, sebaiknya mencari bantuan pada Psikolog untuk memulihkan kondisi psikologisnya.

Bagi suami sebagai pelaku, bantuan oleh Psikolog diperlukan agar akar permasalahan yang menyebabkannya melakukan kekerasan dapat terkuak dan belajar untuk berempati dengan menjalani terapi kognitif. Karena tanpa adanya perubahan dalam pola pikir suami dalam menerima dirinya sendiri dan istrinya maka kekerasan akan kembali terjadi.

Suami dan istri juga perlu untuk terlibat dalam terapi kelompok dimana masing-masing dapat melakukan sharing sehingga menumbuhkan keyakinan bahwa hubungan perkawinan yang sehat bukan dilandasi oleh kekerasan namun dilandasi oleh rasa saling empati. Selain itu, suami dan istri perlu belajar bagaimana bersikap asertif dan me-manage emosi sehingga jika ada perbedaan pendapat tidak perlu menggunakan kekerasan karena berpotensi anak akan mengimitasi perilaku kekerasan tersebut. Oleh karena itu, anak perlu diajarkan bagaimana bersikap empati dan memanage emosi sedini mungkin namun semua itu harus diawali dari orangtua.

Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Apabila ada terdapat beberapa kesalahan, atau pun perbendaharaan kata dari pidato saya ini kurang berkenan, saya mohon maaf. Selamat Pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.